Hukum Taklifi dan Wadhi

Hukum Syariat terbagi dua macam, yaitu Hukum Taklifi dan Wadh’i. Hukum Taklifi memiliki bentuk Wajib, Sunah, Mubah, Makruh dan Haram, yang berkaitan secara langsung terkait perbuatan orang yang sudah mukalaf, seperti wajib shalat dan beberapa kewajiban lain, haram zina, minum khamar, dan berbagai keharaman lain. Sedangkan Hukum Wadh’i tidak langsung mengatur perbuatan mukalaf, tetapi berbentuk ketentuan yang ditetapkan Allah terkait Hukum Taklif, seperti kondisi junub menyebabkan wajib mandi junub, adanya orang yang memiliki harta dan mencapai Nisab menyebabkan orang tersebut wajib berzakat, tergelincirnya matahari menjadi sebab masuknya waktu dzuhur, dan lainnya. Hukum Wadh’i memiliki bentuk berupa sebab, syarat dan mani (penghalang) bagi ketentuan hukum-hukum Fiqih aplikatif dalam Islam.

Hukum Taklifi

Hukum Taklifi memuat tuntutan dan pilihan, yaitu tuntutan Allah yang berkaitan dengan perintah untuk berbuat sesuatu atau tuntutan untuk meninggalkan sesuatu perbuatan. Didalamnya memuat ketentuan-ketentuan yang berhubungan langsung dengan perbuatan mukalaf, baik berbentuk perintah yang tegas (Wajib), anjuran untuk melakukan (Sunah), larangan (Haram), anjuran untuk tidak melakukan (Makruh), atau dalam bentuk memberi kebebasan untuk berbuat atau tidak berbuat (Mubah).

Didalam agama Islam, bentuk Hukum Taklifi yang berupa tuntutan tidak memberatkan pelakunya, dan selalu berada dalam batas kemampuan seorang mukalaf. Berikut bebrapa bentuk Hukum Taklifi:

Wajib

Mandhub (Sunah)

Mandhub adalah bentuk lafadz lain dari sunah, nafal, tathawu’, mustahab, atau mustahsan, yang artinya tuntutan untuk melaksanakan perbuatan, dimana tuntutan itu tidak bersifat tegas. Mandub atau sunah sendiri secara lughowi memiliki arti seruan untuk sesuatu yang penting. Dan secara istilah didefinisikan sebagai sesuatu yang di beri pahala bagi orang yang melakukannya dan tidak disiksa atau diancam dengan dosa orang yang meninggalkannya.

Mubah

Makruh adalah pilihan antara berbuat dan tidak berbuat. Secara istilah mubah berarti sesuatu yang diberi kemungkinan oleh pembuat hukum (Allah) untuk memilih antara melakukan atau meninggalkan. Ia boleh melakukan atau tidak.

Makruh

Makruh adalah tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan tuntutan itu tidak tegas. Makruh secara lughowi berarti yang tidak disukai, yang dibenci atau yang buruk. Dan secara istilah didefinisikan sebagai sesuatu yang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan apabila dikerjakan pelakunya tidak berdosa.

Haram

Haram adalah tuntutan untuk meninggalkan sesuatu dengan tuntutan yang tegas. Haram secara lughowi berarti sesuatu yang lebih banyak kerusakannya, suatu larangan, sesuatu yang dituntut untuk tidak melakukannya.

Hukum Taklifi Hanafiyah Membedakan Fardhu dan Wajib

Hanafiyah membedakan antara fardhu dan wajib.

Hukum Wadhi’

Hukum Wadhi ada tiga macam, yaitu berupa sebab, syarat dan mani (penghalang) adanya hukum syariat. Dan tiga hal lain terkait hukum perbuatan mukalaf apakah sah, fasid, atau batal. Artinya apabila sesuatu Hukum Taklifi yang dikerjakan itu ada sebabnya, telah memenuhi syarat-syaratnya, dan tidak ada mani’ (penghalang), maka perbuatan itu dinyatakan sudah memenuhi ketentuan hukum (sah). Hukum Wadhi juga menjelaskan adanya ‘azimah atau rukhshah (keringanan). Berikut rincian rincian hukum wadhi:

Sebab

Sabab adalah suatu sifat atau kondisi yang keberadaannya menjadi tanda atau sebab adanya hukum syariat.

Syarat

Syarat adalah sesuatu yang keberadaan hukum syariat tergantung kepadanya. Syarat berada diluar hukum syariat.

Mani’ (Penghalang)

Mani’ atau penghalang adalah suatu sifat atau kondisi yang keberadaannya menghalangi adanya hukum.

Sah / Sahih

Shahih adalah hukum yang telah memenuhi ketentuan syariat, yaitu telah terpenuhi unsur sabab, syarat dan tidak ada mani’ (penghalang). Apabila sesuatu perbuatan yang dituntut ada sebabnya, telah memenuhi syarat-syaratnya, dan tidak ada mani’ (penghalang), maka perbuatan itu dianggap sudah memenuhi ketentuan hukum (sah).

Batil

Batil atau batal adalah hukum yang tidak memenuhi aturan syaraiat. Disebut batil apabila tidak terpenuhinya kualifikasi adanya sabab, syarat dan tidak adanya mani’ (penghalang).

Azimah

Azimah adalah hukum-hukum yang berlaku untuk seluruh mukallaf sejak semula.

Rukhsah (Keringanan)

Rukhsah adalah perubahan hukum yang berubah dari hukum asalnya, karena ada alasan-alasan tertentu. Baca: Kaidah Fiqih tentang Rukhsah (Keringanan)

Video Ushul Fiqih

Ushul Fiqih

Kembali ke atas