Kaidah Fiqih Tentang Niat

Kaidah pertama Qowaid Fiqhiyah (Kaidah Fiqih) adalah tentang Niat. Contoh sederhana misalnya tentang Shalat. Shalat adalah aktifitas garakan dan bacaan yang harus diawali dengan Niat. Jika Shalat tidak disertai niat, maka hanya menjadi gerakan-gerakan yang tidak bernilai ibadah. Hal ini karena segala Ibadah dalam Islam harus disertai/diawali dengan niat. Kaidah Fiqih tentang Niat adalah “Segala sesuatu tergantung pada niat atau tujuannya (الامور بمقاصدها)”. Kaidah Fiqih tentang Niat ini didasarkan hadits ““Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang diperoleh tergantung dari apa yang telah diniatkan (“انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى رواه البخارى).” (HR. Bukhari).”

Pengertian dan Fungsi Niat

Niat adalah kata lain motif atau tujuan eksplisit yang ada didalam hati atas apa yang hendak dilakukan seseorang. Niat secara etimologi artinya sengaja, atau dimaksudkan sebagai sesuatu yang disengaja. Penjelasan cukup lengkap dalam hal ini ada di Wikipedia. Niat ada diucapkan secara lisan dan ada yang dilafazkan di dalam hati. Niat yang diucapkan secara lisan dilakukan dengan mengucapkan niat dengan secara langsung, misalnya niat shalat, niat puasa, dan lainnya. Niat yang dilafazkan di dalam hati tanpa mengucapkannya secara lisan biasanya dilakukan agar niatnya tidak diketahui oleh orang lain. Misalnya niat bernazar pada Allah di dalam hati.

Fungsi niat adalah untuk membedakan suatu perbuatan bernilai ibadah atau perbuatan biasa, dan membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain. Dalam Yurisprudensi Islam Aplikatif (Fiqih) Niat juga berfungsi untuk menjelaskan hukum suatu perbuatan. Contohnya kasus penjual buah anggur. Jika seseorang menjual anggur atau dengan niat untuk dijadikan sesuatu yang haram, seperti akan dijadikan sebagai bahan minuman keras, maka hukumnya haram, sedangkan kalau tidak ada niat dan tujuan seperti itu maka hukumnya halal.

Shalat adalah aktifitas garakan dan bacaan yang harus diawali dengan Niat. Shalat subuh misalnya, niatnya Aku niat sholat fardu subuh 2 rakaat, menghadap qiblat, ada’an (saat ini), karena Allah ta’ala” (أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى). Jika tidak diawali dengan niat maka hanya menjadi gerakan-gerakan senam saja, bukan sebagai Ibadah. Begitu juga puasa. Puasa ramadhan niatnya “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala” (نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى). Jika tidak diawali niat, puasa hanya menjadi upaya diet dengan tidak makan dan minum dan juga tidak bernilai ibadah.

Kesalahan Dalam Menjelaskan Niat Menyebabkan Ibadah Tidak Sah

Jika niat memerlukan penjelasan lebih detail, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan tersebut menyebabkan Ibadah menjadi batal atau tidak sah. Kaidahnya adalah ما يشترط فيه التعين فالخطأ فيه مبطل. Contoh dari kaidah tersebut adalah sebagai berikut:

Jika kita hendak shalat Dhuhur, niatnya adalah Usholli Fardlon dhuhri Arba’a Rok’aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala – Aku niat sholat fardu dhuhur 4 rakaat, menghadap qiblat, ada’an (saat ini), karena Allah ta’ala” (اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى). Jika shalat dhuhur tetapi lafadz niatnya adalah shalat ashar Usholli Fardlol Ashri Arba’a Roka’aataim Mustaqbilal Qiblati Adaa-an Lillahi ta’aala – “Aku niat sholat fardu ashar 4 rakaat, menghadap qiblat, ada’an (saat ini), karena Allah ta’ala” (أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى) maka shalat Dhuhurnya tidak sah.

ما يشترط فيه التعين فالخطأ فيه مبطل

Apa yang disyaratkan mementukan secara terperinci (ta’yin), maka kesalahan dalam menjelaskannya menjadikannya batal / tidak sah

 

Begitu juga kasus terhadap niat-niat dalam ibadah yang tidak diharuskan meberikan penjelasan secara rinci (seperti menyebut secara spesifik nama shalat seperti dhuhur/ashar/maghrib/isya/subuh), tetapi cukup memebrikan penjelasan niat secara umum, maka ketika kesalahan dalam penjelasan secara rinci teresbut juga menyebabkan ibadah menjadi tidak sah. Kaidahnya adalah ما يشترط التعرض له خملة ولا يشترط تعيينه تفصيلا اذا عينه واخطأ ضرَّ.

Contoh Kaidah Fiqih Tentang Niat

Contoh dari Kaidah Fiqih ما يشترط التعرض له خملة ولا يشترط تعيينه تفصيلا اذا عينه واخطأ ضرَّ adalah sebagai berikut: Ketika shalat berjamaah kita tidak perlu/tidak disyaratkan menyebutkan nama Imam ketika niat. Seorang makmum hanya perlu menyebutkan “makmuman (مَأْمُوْمًا)” untuk mendefinisikan posisi dirinya sebagai makmum, yaitu seseorang yang mengikuti gerakan Imam. Seorang makmum tidak perlu menyebutkan nama Imam seperti “makmuman (مَأْمُوْمًا) kepada Said Aqil Siroj”, misalnya. Jika seorang makmum beriat demikian dan ternyata yang menjadi imam bukanlah Said Aqil Siroj, maka shalatnya menjadi tidak sah. Hal ini terjadi karena jika telah berniat makmum kepada Said Aqil Siroj yang secara definitif berarti telah menafikan mengikuti imam yang ada. Karena itu dalam shalat berjamah hanya disyaratkan niat berjamaah “makmuman (مَأْمُوْمًا)” tanpa adanya kewajiban menyebutkan siapa nama imamnya.

Contoh Kaidah Fiqih lainnya dapat ditemukan didalam kategori Kaidah Fiqih

Ushul Fiqih

Kembali ke atas