Kaidah Fiqih tentang Rukhsah (Keringanan)

Kaidah Fiqih tentang Rukhsah (Keringanan) adalah “Kesukaran itu menarik adanya kemudahan” dan “Jika suatu perkara itu sempit, maka bisa menjadi longgar.” Kaidahnya senada dengan kalimat jika suatu perkara itu sulit maka bisa menjadi mudah. Rukhsah adalah bentuk keringanan atau kelonggaran. Keringanan ini diberikan dalam keadaan tertentu karena ada kesulitan. Sebab adanya rukhsah  atau keringanan adalah dalam kondisi keterpaksaan (ad-darurat) atau karena kebutuhan (al-hajat), dan karena adanya uzur (halangan). Contoh kondisi yang memperoleh rukhsah diantaranya bolehnya berbuka (membatalkan) puasa saat Ramadhan karena sakit atau safar, keringanan Shalat bagi musafir berupa Jama’ Qashar, dan lainnya.

Dasar Kaidah Fiqih tentang Rukhsah (Keringanan)

Kaidah Fiqih tentang Rukhsah ini didasarkan dari Firman Allah SWT didalam Quran dan juga dari Hadits Nabi. Dasar kaidah Fiqih dari Quran dan Hadits adalah:

  1. يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
    “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendak kesukaran bagimu”

    (QS. Al-Baqoroh : 185)
  2. وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
    “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu suatu kesulitan dalam agama.”

    (QS. Al-Hajj : 78)
  3. “Agama itu adalah mudah, agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah.”
    (HR. Bukhari dan Abu Hurairah)
  4. “Mudahkanlah dan jangan mempersulit”
    (HR. Bukhari dari Anas)

Sebab-sebab Islam Memberikan Rukhsah (Keringanan)

Rukhsah diberikan dalam kondisi tertentu yang menyulitkan jika harus dilakukan secara biasa. Sebab-sebab adanya keringanan adalah karena menjadi Musafir (orang yang dalam perjalanan), kondisi sakit, kondisi terpaksa, kondisi yang sulit, dan sebab lainnya. Contohnya orang yang bepergian (musafir) mendapat kemudahan dalam beragama, yaitu boleh mengqoshor dan menjama’ sholat, juga boleh tidak berpuasa (dengan konsekuensi mengganti di hari lain).

Orang yang dalam kondisi sakit juga menjadi sebab mendapatkan keringanan. Diantaranya diperbolehkan sembahyang dengan duduk atau berbaring, boleh tayamum sebagai ganti berwudlu jika tidak memungkinkan menggunakan air, dan boleh tidak berpuasa (mengganti di hari lain ketika sembuh). Berikutnya adalah kondisi terpaksa atau dalam paksaan yang menjadi sebab mendapatkan keringanan. Seseorang yang kelaparan sedangkan tidak ada makanan  yang halal adalah contoh kondisi terpaksa dimana orang boleh memakan makanan yang haram. Demikian juga kondisi dalam paksaan. Seseorang yang melakukan sesuatu bukan karena kehendaknya sendiri maka dia tidak dihukumi dengan perbuatannya tersebut.  Misalnya seseorang yang dipaksa untuk meminum khamr maka dia tidak dihukumi dengan perbuatan tersebut selama dia tidak menikmatinya dan hatinya tidak condong atau suka dengan perbuatan tersebut.

Kondisi kesulitan secara umum termasuk kategori yang mendapatkan keringanan. Setiap hal yang menyulitkan dalam Islam dimaafkan. Contohnya shalat, sebuah ibadah yang mengharuskan dalam keadan suci. Tapi kondisi seseorang yang terkena penyakit selalu mengeluarkan air seni tetap dihukumi wajib baginya untuk melaksanakan shalat walaupun keadaannya demikian. Demikian juga wanita yang mengeluarkan darah istihadhah. Shalat dengan najis yang sulit dihindari dengan demikian dimaafkan dan termasuk keringanan.

Bentuk-bentuk Rukhsah (Keringanan)

Bentuk rukhsah beragam. Adakalanya berupa pengguguran kewajiban, sesuatu yang awalnya wajib tapi karena adanya kesulitan menjadikan kewajibannya gugur. Adakalanya memiliki bentuk lain dengan mengurangi beban, misalnya pengurangan jumlah rakaat shalat bagi orang yang sedang bepergian (musafir). Sebagai bentuk keringanan yang diberikan dalam keadaan tertentu karena ada kesulitan Rukhsah memiliki pola yang beragam.

  1. Rukhsah berupa Pengguguran Kewajiban

    Sesuatu yang awalnya wajib tapi karena adanya kesulitan menjadikan kewajibannya gugur. Contohnya gugurnya kewajiban Jumat karena ada halangan hujan lebat.

  2. Rukhsah berupa Pengurangan Beban

    Contohnya mengqoshor shalat empat rakaat menjadi dua rakaat.

  3. Rukhsah berupa Penukaran

    Contohnya ditukarnya wudlu atau mandi dengan tayamum.

  4. Rukhsah berupa Mendahulukan Waktu

    Di dalam Islam, ibadah telah diatur pelaksanaan waktunya. Tetapi kondisi kesulitan memungkinkan ketentuan waktu menjadi fleksibel. Contohnya Shalat jama’ taqdim dan menyegerakan zakat sebelum waktunya.

  5. Rukhsah berupa Pengakhiran Waktu

    Contohnya jama’ takhir dalam shalat dan penundaan puasa Ramadhan karena sakit atau bepergian.

  6. Rukhsah berupa Kemurahan

    Contohnya minum minuman najis atau makan makanan najis untuk obat.

  7. Rukhsah berupa Perubahan

    Contohnya perubahan cara sembahyang dalam keadaan yang menakutkan (kondisi peperangan).

Kaidah Fiqih tentang Rukhsah

Berikut adalah tiga Kaidah Fiqih tentang Rukhshah (Keringanan). Kaidah “Jika suatu perkara itu sulit maka bisa menjadi mudah” tidak berlaku lagi jika kesulitan telah hilang. Jika hal-hal yang menjadi sebab diberikannya rukhsah sudah tidak, ada maka hukum kembali seperti semula. Untuk kondisi yang tidak ada kesulitan maka berlaku kaidah ketiga, “Jika suatu perkara itu longgar, maka menjadi sempit”.

  1. اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَيْسِيْرَ
    Kesukaran itu mengharuskan adanya kemudahan.
  2. اِذَا ضَاقَ الْاَمْرُ اِتَّسَعَ
    Jika suatu perkara itu sempit, maka bisa menjadi longgar.
  3. اِذَا اِتَّسَعَ الْاَمْرُ ضَاقَ
    Jika suatu perkara itu longgar, maka menjadi sempit.

Pembahasan Kaidah Fiqih lainnya dapat dilihat didalam kategori Kaidah Fiqih

Video Ushul Fiqih

Ushul Fiqih

Kembali ke atas