Kaidah Ushul Fiqih

Kata kaidah (القاعدة) secara bahasa / etimologi artinya adalah asal (al-asl) atau asas (al-asas), yang berarti berarti asas, landasan, dasar, basis atau pondasi. Dengan demikian, Kaidah Ushul Fiqih berarti dasar / pondasi Ushul Fiqih. Kaidah Ushul Fiqih berisi kaidah kaidah dalam berijtihad, juga Kaidah Quran dan Sunah, Kaidah Ijma, Kaidah Qiyas, dan berbagai metodologi dalam berijtihad lain seperti Kaidah Mashlahah, Kaidah Sadd Dzariah, Kaidah Urf, Kaidah Istishab, Kaidah Qaul Sahabi, dan lainnya.

Kaidah Ushul Fiqih berbeda dengan Kaidah Fiqih (Qawaid Fiqhiyah). Perbedaan Kaidah Fiqih dengan Kaidah Ushul Fiqih adalah, Kaidah Fiqih berisi kaidah-kaidah universal bagi pelaksanaan yurisprudensi (hukum) Islam aplikatif (Fiqih). Kaidah Fiqih sendiri berarti asas, landasan, dasar, basis atau pondasi Fiqih. Jika anda mencari 75 Kaidah Fiqih Lengkap, baik Kaidah Fiqih induk (Al-Qawaid Al-Asasiyah) maupun cabang / turunannya, lihat: 75 Kaidah Fiqih (Lengkap)

Kaidah Ushul Fiqih tentang Ijtihad

  1. الاجتهاد أصل من أصول الفقه

    al ijtihad asl min usul al fiqh

    Ijtihad adalah salah satu pondasi yurisprudensi (dasar dari ushul fiqih)

    Ijtihad adalah salah satu tema penting didalam Ilmu Ushul Fiqih. Didalamnya kita mempelajari Konsep dasar Ijtihad, mulai dari Dasar Hukum Ijtihad, Macam-Macam Ijtihad, Syarat-Syarat Ijtihad, Objek dan Ruang Lingkup Ijtihad, Hukum Melakukan Ijtihad, hingga Kualifikasi dan Tingkatan seorang Mujtahid atau seseorang yang melakukan Ijtihad.

    Berbagai metode Ijtihad juga dipelajari didalam Ilmu Ushul fiqih. Seperti Istihsan, Kehujjahan Istihsan sebagai sumber hukum, Pengaruh Istihsan dalam Fiqih, Mashlahah Mursalah, Istishab, ‘Urf dan Macam-macamnya: ‘Urf Sahih dan Urf Fasid, Kehujjahan ‘Urf, Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabi, dan Dzari ‘ah. Ushul Fiqih juga mempelajari metode-metode Istinbath seperti: Amar, Nahi, dan Takhyir, Lafal Umum (‘Am) dan Lafal Khusus (Khas), Mutlaq dan Muqayyad, Mantuq dan Mafhum, Ta’wil, dan Metode Penetapan Hukum Melalui Maqasid Sari’ah, Ta’arud dan Tarjih

  1. الاجتهاد الا من اْلمجتهدين

    al ijtihad illa min al mujtahidin

    Tidak ada ijtihad kecuali dari Mujtahid.

    Tidak setiap orang dapat berijtihad. Didalam Ushul Fiqih terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai sebelum seseorang berijtihad. Sesorang tidak dapat dikategorikan sebagai mujtahid yang berhak melakukan ijtihad jika tidak dapat memenuhi kualifikasi ini. Yaitu: Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Quran dan Sunnah, Mampu berbahasa Arab yang memadai sehingga mampu menafsirkan kata-kata yang asing (gharib) dalam Quran dan sunnah, Menguasai ilmu ushul fiqh, dan mempunyai pengetahuan yang memadai tentang nasikh dan mansukh.

  1. الواجب الاجتهاد و الحق واحد

    al wajib al ijtihad wa al haqu wahid

    Yang wajib ijtihad dan yang benar (kebenaran) adalah satu.
  1. باب الاجتهاد مفتوح لا يغلق

    bab al ijtihad maftuh la yaghliq

    Pintu Ijtihad terbuka, tidak tertutup

    Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan bagi para ulama untuk memecahkan masalah-masalah kontemporer. Termasuk juga menghalangi dalam menciptakan pemikiran-pemikiran progresif dengan menggali sumber hukum Islam (Quran) yang luas. Pernyataan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup populer sejak akhir abad ke-4 H, pasca berakhirnya masa keemasan Islam yang ditandai dengan kemunduran dalam berbagai bidang termasuk ilmu pengetahuan.

  1. لا اجتهاد مع النص

    la ijtihad ma’a al nash

    Tidak ada ijtihad (bersamaan) dengan adanya nash
  1. الاجتهاد يتجزأ

    al ijtihad yatajazaa

    Ijtihad itu berpahala

    Seorang hakim yang memutuskan hukum, atau seorang Mujtahid ketika melakukan ijtihad, mendapatkan pahala. Ada satu hadits populer dimana seseorang berijtihad, jika ijtihadnya benar maka mendapat dua pahala, dan jika ijtihadnya salah mendapat satu pahala. “Apabila seorang hakim ketika menghukumi suatu masalah lalu dia berijtihad dan dia benar, maka dia mendapat dua pahala. Apabila dia menghukumi suatu masalah lalu berijtihad dan dia salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” HR. Muslim : 1716 dari Amr bin Al-Ash

  1. الاجتهاد الجماعي أولي من الفردي

    al ijtihad al jama’i ‘uwla min al faradi

    Ijtihad kolektif adalah yang utama daripada individu

    Ijtihad kolektif akan mengasilkan produk berupa Ijma’. Ijma’ adalah kesepakatan mujtahid terhadap suatu hukum syara’ tentang suatu kasus atau peristiwa tertentu. Ijmak sebagai kesepakatan hasil ijtihad kolektif sejumlah mujtahid, lebih utama daripada hasil ijtihad seorang mujtahid. Diantara persyaratan Ijma’ diantaranya adalah Mujtahid yang melakukan kesepakatan harus bersandarkan pada hukum syara’ baik dari nash ataupun qiyas.

  1. الاجتهاد في فهم النص محمود

    al ijtihad fi fahm al nash mahmud

    Ijtihad didalam memahami nash adalah terpuji

    Sebagaimana kaidah sebelumnya: “Ijtihad itu berpahala”, Ijtihad didalam memahami Quran dan Sunah adalah perbuatan yang terpuji.

  1. الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد

    al ijtihad la yanqad bil ijtihad

    Ijtihad tidak batal oleh ijtihad lain

    Hasil suatu ijtihad tidak dapat dirusak oleh ijtihad yang lain. Hasil suatu ijtihad yang dilakukan pada masa yang lalu tidak dapat dibatalkan oleh hasil ijtihad yang dilakukan kemudian, baik dilakukan oleh mujtahid itu sendiri maupun mujtahid yang lain. Hasil itihad hanya dapat dibatalkan apabila bertentangan dengan dalil Quran dan Sunah yang Qath’i. Alasan rasional Ijtihad tidak batal oleh ijtihad lain adalah apabila hasil ijtihad dapat dibatalkan oleh hasil ijtihad yang lain maka akan terjadi ketidakpastian hukum dengan adanya pembatalan hukum yang tidak tidak ada habisnya.

    Baca: Ijtihad Tidak Dapat Dibatalkan dengan Ijtihad yang Lain

  1. تقليد اْلجتهد واجب علي العامي

    taqlid al ijtihad wajib al aamy

    Taqlid kepada mujtahid adalah wajib bagi orang awam.

    Ada perbedaan pendapat tentang Taqlid, yaitu ada membolehkan hukum taklid dalam hal-hal tertentu, dan ada tidak memperbolehkan taklid sama sekali. Hal-hal yang dilarang untuk bertaklid termasuk orang awam adalah persoalan ushuliyah (pokok-pokok agama). Contohnya adalah keimanan kepada Allah. Tidak ada taklid dalam masalah ushuliyah ini, dan wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari akidah dengan segala dalinya atau argumentasinya, supaya tertanam keyakinan didalam hati, dan imanya tidak rapuh karena adanya keraguan.

    Yang diperbolehkan untuk taklid adalah persoalan furu’iyyah, seperti persoalan I’tiqad, Ushul Fiqih, dan Fiqih. Karena tidak semuanya umat Islam memahami tentang hukum agama, orang awam diharuskan untuk taklid kepada para ulama yang memahami dan mengerti tentang agama

  1. اجتهاد المرأة جائز

    al ijtihad al mar’ah jaiz

    Ijtihad seorang perempuan diperbolehkan

    Kedudukan perempuan dalam Islam memjadi pembahasan yang menarik. Didalam Ilmu Ushul Fiqih terdapat kaidah yang menyebut bahwa Ijtihad seorang perempuan diperbolehkan. Ini berarti bahwa laki-laki dan perempuan dalam tradisi keilmuan islam adalah setara, dan persoalan Ijtihad tidak hanya milik laki-laki saja. Ijtihad dilakukan seorang Mujtahid dan juga seorang hakim dalam memutuskan hukum. Artnya perempuan dapat berprofesi sebagai hakim, masuk di parlemen sebagai pembuat hukum, ikut aktif di Lembaga Fatwa MUI, Majelis Tarjih Muhammadiyah dan Bahtsul Masail NU, dan sebagainya.

Kaidah Ushul Fiqih tentang Quran

  1. القران هو المصدر الأساسي الأول في التشريع

    al quran huwa al masdar al asasi al awwal fi al tasyri’

    Quran adalah sumber dasar pertama / utama dalam penentuan dan penetapan hukum Islam (Tasyri)

    Quran merupakan sumber hukum Syariat Islam. Semua ayat yang terdapat dalam Quran bersifat qath’i, dan Quran diriwayatkan secara mutawatir. Quran merupakan sumber hukum Hukum Islam.

    Baca: Quran Sebagai Sumber Hukum Islam

  1. الأدلة التشريعية ناشئة عن القرأن

    al adilat al tasyriat nashiat an al quran

    Dalil-dalil penetapan hukum Islam (Tasyri) berasal dari Quran

    Quran merupakan sumber hukum Islam yang utama, sehingga penetapan hukum Islam (Tasyri) harus bersumber dari Quran. Hukum-hukum yang terkandung dalam Quran sendiri pada garis besarnya dapat dikategorikan menjadi tiga macam: Pertama, Hukum-hukum tentang kepercayaan (akidah). Kedua, Hukum-hukum tentang akhlak. Ketiga, Aturan hukum tentang manusia. Hukum-hukum ini diterjemahkan menjadi Fiqih, hukum aplikaih (amaliyah). Hukum Fiqih sendiri dikategorikan menjadi dua, yaitu Fiqih Ibadah dan Fiqih Muamalah.

    Baca: Quran Sebagai Sumber Hukum Islam

  1. القرأن الكريم قطعي الثبوت, وأما دلالته فمنها قطعية و منها ظنية

    al qur’an al karim qath’i al thubut, wa amaa dalalatuh faminha qath’iat wa minha dzaniat

    Alquran al-karim, Qath’i dalam eksistensinya (keberadaanya), adapun dalalah / penunjukan dalilnya ada yang Qath’i dan Dzani.

    Ayat-ayat Quran yang membahas permasalahan hukum sebagian besar bersifat umum, dimana terkadang dilalahnya (maknanya) qath’i (jelas), tetapi juga kadang dilalahnya dzhani (kurang jelas). Ayat dengan dilalah qath’i maksudnya adalah ayat yang memuat hukum tersebut jelas, dan tidak ada makna atau pengertian lain selain yang dimaksudkan. Sedangkan ayat dengan dilalah dzhani sangat dimungkinkan muncul adanya beberapa pengertian dalam ayat tersebut.

  1. تعريف القرأن بالأحكام الشرعية أكثره كلي الى جزئي

    taerif al quran bil ahkam al syariat ‘aktsarah kuli ‘iilaa jizi

    Ta’rif (definisi) Al-Qur’an tentang aturan hukum syariah sebagian besar lengkap bukan sebagian
  1. القراءة الشاذة لا توجب علما ولا عمَل

    al qira’at al syadhat la tujab ilman wala amal

    Qira’at yang syad (aneh, tidak teratur) tidak menentukan pengetahuan dan juga tindakan / pengamalan

    Meskipun Quran diriwayatkan secara mutawatir, terdapat banyak bentuk qiraat atau dialek cara membacanya. Selain itu ada perbedaan pendapat tentang apakah Quran itu mencakup lafadz / teks dan maknanya atau hanya maknanya saja. Ada yang berpendapat Quran hanya maknanya saja bukan lafadz / teksnya. Konsekuensi dari pendapat ini misalnya dalam pandangannya Imam Abu Hanifah yang membolehkan shalat dengan menggunakan bahasa non-Arab.

    Baca: Quran dan Sunah dalam Pandangan Imam Abu Hanifah

  1. كل حكاية وقعت في القرأن , ردها, فذلك دليل علي بطَلن اْلحكي.وكل حكايةلم يقعردها ,فذلك دليل صحة اْلحكي و صدقه

    kulu hikayat waqiat fi al quraan, radha, fadhlik dalil ala batalan al hak. wakulu hikayt lamm yaqraduha, fadhlik dalil sihat al hak wa sadqah

    Setiap kisah penolakan yang ada di dalam alqur’an, maka itu menjadi dalil terhadap batalnya yang diceritakan tersebut. Dan setiap kisah yang tidak ada penolakanya, maka itu adalah dalil terhadap kebenaran cerita tersebut

    Dalam Quran banyak kisah tentang suatu hukum yang telah disyariatkan pada umat zaman dulu melalui para Rasul yang diutus kepada mereka. Dalam Ushul Fiqih ini disebut Syar’u Man Qablana atau hukum Syari’at sebelum kita (umat Islam). Syariat tersebut jika secara tegas ditetapkan atau diperintahkan, maka itu menjadi bagian dari Syariat Islam. Dan jika secara tegas dihapus maka hukum tersebut tidak berlaku lagi. Dan ada perbedaan pendapat jika tidak ada ketegasan karena tidak adanya nasakh atau penjelasanan yang membatalkanya.

    Baca: Syar’u Man Qablana: Hukum Syari’at Sebelum Islam

  1. تفسير القرأن بالرأي والاجتهاد غير جائز

    tafsir al quran bil ra’y wal ijtihad ghayr jaiz

    Menafsirkan alqur’an dengan akal (ra’yu) dan ijtihad tidak diperbolehkan

    Terdapat bentuk penafsiran Quran, dimana secara umum ada tiga kategori: Tafsir bi al-Ma`tsur, Tafsir bi ar-Ra`yi, dan Tafsir Isyari. Ushulfiqih.com belum memahami penolakan ulama Ushul Fiqih terhadap tafsir bi ar-Ra`yi dengan adanya kaidah ini. Dalam sejarahnya, tafsir ini berperan besar dalam mendorong ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Tafsir ini mampu menerangkan maksud ayat, mengembangkannya dan juga turut melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan. Contoh Tafsir bir ra’yi ini adalah Tafsir Jalalain.

Kaidah Ushul Fiqih tentang Sunah

Kaidah Ushul Fiqih tentang sunah terbagi dalam Kaidah-kaidah Dirayah dan Kaidah-kaidah Riwayah.
Berikut Kaidah-kaidah Dirayah:

  1. الخصوصية لا تثبت إلا بدليل

    alkhususiat la tuthbit ‘iilaa bidalil

    Pengkhususan itu tidak ditetapkan kecuali dengan suatu dalil
  1. ال يشرع المداومة على ما لم يداوم عليه النبي صلى الله عليه وسلم من العبادات

    al yusharie almudawamat ealaa ma lm yudawim ealayh alnabiu salaa allah ealayh wasalam min aleibadat

    Tidak disyariatkan melanggengkan sesuatu (ibadah) yang tidak pernah dilanggengkan oleh Nabi SAW
  1. إقرار النبي صلى الله عليه وسلم حجة

    ‘iiqrar alnabii salaa allah ealayh wasalam hujatan

    Persetujuan / pengakuan Nabi SAW adalah argumen (hujjah)
  1. ما وقع في زمن النبي صلى الله عليه وسلم يعتبر حجة وإن لم يكن اطلع النبي صلى الله عليه وسلم عليه

    ma waqae fi zaman alnabii salaa allah ealayh wasalam yuetabar hujatan wa’iin lam yakun ‘atlae alnabia salaa allah ealayh wasalam ealayh

    Apa yang terjadi pada zaman Nabi SAW dianggap sebagai bukti (hujjah), sekalipun Nabi SAW tidak mengujinya.
  1. الفعل اْلجرد ال يدل على الوجوب

    alfiel aljrd al yadulu ealaa alwujub

    Perbuatan semata tidak menunjukkan kewajiban
  1. ما أصله مباح وتركه النبي صلى الله عليه وسلم ال يدل تركه له على أنه واجب علينا تركه

    ma ‘asilah mubah watarkah alnabiu salaa allah ealayh wasalam al yadulu tarakah lah ealaa ‘anah wajib ealayna tarakah

    Yang pada dasarnya mubah (boleh), kemudian ditinggalkan oleh Nabi SAW, tidaklah memberikan petunjuk bahwa prilaku nabi dalam meninggalkan itu menjadi kewajiban bagi kita untuk meninggalkan itu
  1. الأصل أن ما هم به النبي صلى الله عليه وسلم ولم يفعله فإنه ال يكون حجة

    al’aslu ‘ana maa hum bih alnabiu salaa allah ealayh wasalam walam yafealh fa’iinah al yakun hujatan

    Pada dasarnya apa yang diinginkan oleh nabi SAW , kemudian beliau belum melakukankanya, maka itu tidak dapat menjadi argumen (hujjah).
  1. الفعل الجبلي اْلحض الذي ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم ال يتقربالمكلف بفعلهإلىالله عز وجل

    alfiel aljabuliu alhd aldhy warad ean alnabii salaa allah ealayh wasalam al yataqarabialimukalaf bifaeliha’iilaaallah eaza wajal

    Perbuatan yang diluar batas kemampuan manusia yang dilakukan oleh Nabi SAW, maka seorang mukallaf tidak melakukan dengan amal yang dilakukan oleh Nabi SAW itu untuk mendekatakan diri kepada Allah.
  1. ما يستحب النبي صلى الله عليه وسلم فعله من الأمور العادية فيستحب فعله ْلحبة النبي صلى الله عليه وسلم له

    ma yastahibu alnabiu salaa allah ealayh wasalam faealah min al’umur aleadiat fayastahibu faealah lhbt alnabii salaa allah ealayh wasalam lah

    Perbuatan yang disenangi Nabi SAW untuk dilakukan dari adat kebiasaan, maka melakukan itu disenangi (sunnahkan) karena kecintaan nabi SAW terhadap hal itu.
  1. ترك النبي صلى الله عليه وسلم لفعل ما مع وجود المقتضي ي له وانتفاء المانع يدل على أن ترك ذلك الفعل سنة وفعله بدعة

    tarak alnabiu salaa allah ealayh wasalam lifael ma mae wujud almuqtadi y lah waintifa’ almanie yadulu ealaa ‘an tarak dhlk alfiel sanatan wafaealah bidiea

    Ketika nabi meninggalkan suatu perbuatan yang disertai adanya ketetapan tetntang itu dan tidak adanya penghalang (mani’), itu menunjukan bahwa meninggalkan perbuatan itu adalah sunnah dan melakukan perbuatan itu adalah bid’ah.
  1. التعارض بين أفعال النبي صلى الله عليه وسلم

    altaearud bayn ‘afeal alnabii salaa allah ealayh wasalam

    Tidak ada konflik / pertentangan di antara perbuatan nabi SAW
  1. إذا تعارض القول مع الفعل ولم يمكن الجمع بينهما فإن القول مقدم على الفعل

    ‘iidha taearud alqawl mae alfiel walam yumkin aljame baynahuma fa’iina alqawl muqadim ealaa alfiel

    Apabila ada pertentangan antara perkataan dan perbuatan, dan tidak mungkin digabungkan / dikompromikan keduanya, maka perkataan lebih didahulukan dari perbuatan
  1. الفعل الوارد بصيغة”كان” الأصل فيه أنه للتكرار

    alfiel alward bsygh”kan” al’asl fih ‘anah liltakrar

    Perbuatan yang datang dengan shighat kana (كان) pada dasarnya dalam arti pengulangan

Kaidah Ushul Fiqih tentang Ijma

  1. الإجماع حجة من الحجج الشرعية ومخالفات الجماع محرمة

    al’iijmae hujatan min alhujaj alshareiat wamukhalafat aljimae muharama

    Ijmak adalah termasuk salah satu dalil hukum (hujjah syara’) dan menyalahi Ijmak adalah diharamkam

    Ijmak yang dinilai sebagai hujjah yang qathiy (kuat, meyakinkan) adalah Ijma yang menggunakan dengan metode naqli (nash), sementara Ijma dinilai dhanniy (tidak kuat) jika Ijma tersebut bersandar pada ijtihad. Dinilai sebagai Ijma yang tidak kuat (dzani) termasuk didalamnya adalah Ijmak sukuti. Ijma sukuti adalah Ijmak atau persetujuan Mujtahid yang dilakukan dengan cara mendiamkan tanpa mengutarakan pendapatnya secara jelas (sharih) terhadap suatu masalah yang diutarakan oleh Mujtahid lain.

  1. الأجماع لا بد أن يكون له مستند من الكتاب والسنة

    al’ajmae la bd ‘an yakun lah mustanid min alkitab walsana

    Ijma / Konsensus harus bersandarkan kepada Quran dan Sunah
  1. الإجماع ال يقدم على الكتاب والسنة

    al’iijmae al yuqadim ealaa alkitab walsana

    Ijmak tidak didahulukan atas Alquran dan al-sunnah.
  1. الإجماع لا ينسخ النص

    al’iijmae la yansakh alnas

    Ijmak / Konsensus tidak menasakh (menghapuskan) nash.
  1. اإلجماع الذي يغلب على الظن وقو عه هو اإلجماع على ماهو معلوم من الدين بالضرورة

    a’ilijmae aldhy yaghlib ealaa alzani waqu eah hu a’ilijmae ealaa mahw maelum min aldiyn baldrwr

    Ijma / Konsensus yang paling mungkin terjadi adalah konsensus tentang apa yang perlu diketahui dari agama
  1. إجماع الصحابة ممكن وقوعه وأما إجماع من بعدهم فمتعذر غالبا

    ‘iijmae alsahabat mmkn wuqueih wa’amaa ‘iijmae min baedihim fmtedhr ghalbaan

    Ijma’ / Konsensus para Sahabat dimungkinkan, tetapi konsensus orang-orang setelah mereka seringkali tidak mungkin

    Meski Ijma’ / konsensus periode setelah masa sahabat seringkali dianggap sulit atau tidak mungkin, realitasnya Ijmak tidak dikhususkan pada era sahabat saja. Dianggap sulit terjadinya secara umum bukan berarti tidak bisa dicapai sama sekali.

  1. إذا اختلف عالمين في الإجماع على مسألة ما فإنه يقدم قول من نقل الخَلففيتلكالمسألة ألنهمثبت

    ‘iidha ‘akhtalif ealimin fi al’iijmae ealaa mas’alat ma fa’iinah yuqadim qawl min naql alkhalffytlkalmsalt ‘alnhmthibat

    Jika dua ulama tidak sepakat tentang suatu masalah, maka pendapat khalaf tentang masalah itu didahulukan karena mereka membuktikan

    Perbedaan pendapat di antara dua orang Mujtahid sangat mungkin terjadi, termasuk dalam Ijmak suatu masalah. Dalam kasus ini pendapat Mujtahid yang membawa pendapat yang berbeda dalam masalah itu didahulukan dan lebih dikuatkan karena mereka membuktikan atau membawa bukti adanya perbedaan.

  1. عدم العلم باْلخالفال يصاحبه دعوى الإجماع

    edm aleilm balkhalfal yusahibah daewaa al’iijmae

    Tidak adanya pengetahuan tentang orang yang berbeda pendapat, maka tidak sah klaim / pengakuan adanya Ijmak.
  1. إجماع أهل المدينة ال يعتبر حجة

    ‘iijmae ‘ahl almadinat al yuetabar hujatan

    Ijma’ / Konsensus masyarakat Madinah bukanlah argumen (hujah)

    Kalangan Malikiyah menyatakan sebaliknya, dan mempunyai kaidah yang berbeda: Ijmak Penduduk Madinah adalah hujjah

  1. قول جمهور العلماء في مسألة من المسائل ال يعتبر حجة

    qawl jumhur aleulama’ fi mas’alat min almasayil al yuetabar hujatan

    Pendapat mayoritas (jumhur) ulama tentang suatu masalah tidak dianggap bukti (hujah)

    Ijma mensyaratkan kesepakatan. Perbedaan sekecil apapun mengakibatkan Ijmak dianggap tidak terjadi. Kesepakatan mayoritas (jumhur) secara otomatis mengartikan adanya perbedaan pendapat diluar mayoritas tersebut. Dengan demikian Kesepakatan mayoritas tidak dianggap sebagai Ijmak karena adanya pendapat minoritas yang berbeda.

Kaidah Ushul Fiqih tentang Qiyas

  1. القياس حجة من الحجج الشرعية

    alqias hujatan min alhujaj alshareia

    Qiyas adalah salah satu argumen (hujah) hukum
  1. لا قياس في مقابل النص

    la qias fi mqabl alnasi

    Tidak ada qiyas dalam pertentangan dengan nash
  1. القياس لا يصار إليها إلا عند الضرورة

    alqias la yasar ‘iilayha ‘iilaa eind aldarura

    Qiyas tidak dilakukan kecuali jika diperlukan (terpaksa)
  1. يصح القياس على ما ثبتخَلفالألصل

    yasih alqias ealaa ma thbtkhalfalalsl

    Qiyas / analogi itu adalah valod / benar atas apa yang dibuktikan / ditetapkan dibalik asallinya
  1. القياس الصحيح مقدم على الحديث الضعيف

    alqias alsahih muqadim ealaa alhadith aldaeif

    Qiyas / analogi yang benar didahulukan dari hadis yang lemah (dhaif)
  1. قول الصحابي الذي لم يخالفه صحابي آخر مقدم على القياس

    qawl alsahabi aldhy lm yukhalifh sahabi akhar muqadim ealaa alqias

    Pendapat sahabat (Qaul Sahabi) yang tidak bertentangan dengan pendapat sahabat lainya, didahulukan dari qiyas
  1. الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

    alhukm yadur mae ealatih wujudana waeadmana

    Hukum itu beredar bersamaan ada dan tidaknya illat penyebabnya
  1. العلة لا تثبت إلا بدليل

    aleilat la tuthbit ‘iilaa bidalil

    Illat penyebab tidak bisa ditetapkan kecuali dengan suatu dalil
  1. لا يصح التعليل بمجرد الشبه في الصورة

    la yasih altaelil bimujrid alshibih fi alsuwra

    Tidak sah suatu pembenaran (mencari illat) hanya dengan mengibaratkan keserupaan dalam bentuk
  1. لا قياس في العبادات

    la qias fi aleabadat

    Tidak ada qiyas dalam hal ibadah

 

Video Ushul Fiqih

Lihat ‘Urf di Wikipedia

Ushul Fiqih

Kembali ke atas