Kedudukan dan Hukum Ijtihad

Kedudukan Ijtihad adalah sebagai sumber hukum setelah Quran dan Sunah, dan hukum Ijtihad adalah wajib dilakukan oleh mujtahid disetiap zaman. Ijtihad sendiri adalah proses yang harus terus-menerus dilakukan oleh seorang mujtahid. Proses ini harus dilakukan disetiap zaman, tidak hanya zaman dulu, tetapi juga zaman sekarang dan yang akan datang. Hal ini karena seorang mujtahid harus melakukan Ijtihad dalam rangka untuk menjawab persoalan yang terus berkembang. Lebih jauh, menurut Ulama Hanabilah, tidak boleh ada kekosongan mujtahid dalam setiap zaman. Hal ini karena selalu dibutuhkan mujtahid-mujtahid yang bisa menjelaskan dan menguraikan hukum-hukum Syariat untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang belum ada ketentuan hukumnya. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam al-Syatibi.

Kedudukan Ijtihad

Didalam Ushul Fiqih, Ijtihad memiliki kedudukan yang penting sebagai sumber hukum ketiga, yaitu setelah Quran dan Sunah. Dengan demikian, secara otomatis peran Mujtahid sangatlah penting. Mujtahid harus terus-menerus berijtihad untuk menjawab persoalan kontemporer di setiap zaman, sehingga tidak boleh adanya kekosongan mujtahid dalam setiap zaman.

Argumentasi keharusan adanya hasil ijtihad-ijtihad baru, proses mujtahid yang berijtihad, dan tidak boleh ada kekosongan mujtahid, didasarkan kepada Hadits:



حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tegar di jalan kebenaran hingga keputusan Allah datang kepada mereka, dan mereka selalu tegar dalam jalan kebenaran.” (HR Bukhari).

Oleh ulama Hanabilah, yang dimaksud sebagai “orang yang tegar dalam jalan kebenaran” dalam hadits tersebut tidak lain adalah para mujtahid. Para Mujtahid dengan tegar terus berusaha mengerahkan kemampuan intelektual mereka untuk memahami nash syariat. Ungkapan لَا يَزَالُ mengartikan selalu / senantiasa, yang menunjukan konsistensi (istiqomah) tiada henti. Selain itu, hadits ini juga mengartikan jaminan adanya para mujtahid yang akan terus berijtihad dan akan ada disepanjang zaman. Hal ini terjadi sampai hari qiyamat nanti, hingga keputusan Allah datang.

Imam al-Ghazali memiliki pendapat yang berbeda mengartikan hadits tersebut, berbeda dengan ulama Hanabilah. Menurut Imam al-Ghazali, telah terjadi era kekosongan Mustaqil (mutjahid independent) pasca era empat imam mazhab. Dan Imam al-Zarkasyi membantah pendapat Imam al-Ghazali tersebut. Menurut Imam al-Zarkasyi, Imam al-Ghazali tidak lain adalah seorang mujtahid itu sendiri, jadi tidak terjadi apa yang dinamakan “era kekosongan mujtahid” tersebut. Tetapi bagi Imam al-Ghazali dirinya hanyalah muqallid (pengikut) Imam al-Syafi’i. Sedangkan bagi Imam al-Zarkasyi, Imam al-Ghazali dinilai bukan seorang muqallid (pengikut) Imam al-Syafi’i, tetapi adalah mujtahid yang pendapatnya (ijtihadnya) cocok dengan ijtihadnya Imam al-Syafi’i. Imam al-Ghazali adalah seorang mujtahid, sekalipun pendapatnya banyak yang sama dengan apa yang diungkapakan oleh Imam al-Syafi’i.

Hukum Ijtihad

Imam Asy-Syafi’i didalam Al-Risalah meriwayatkan dengan sanad yang berasal dari Amr bin Ash yang
mendengar dari Rasulullah saw bersabda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ

Hadits ini menjelaskan Ijtihad adalah proses yang dinilai baik dan berpahala dalam segala kondisi. Meski demikian Ijtihad tetaplah tidak boleh dilakukan asal-asalan oleh sembarang orang, ada kualifikasi yang harus dipenuhi bagi seseorang yang hendak berijtihad.

Menurut ulama Ushul Fiqih hukum ijtihad itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:



  1. Wajib ‘Ain

    Yaitu bagi mujtahid yang ditanya tentang sesuatu masalah dan masalah itu dikhawatirkan akan hilang sebelum hukumnya diketahui, sedangkan tidak ada mujtahid lain selain dia. Hukum ini juga berlaku bagi mujtahid yang mengalami suatu peristiwa yang dia sendiri juga ingin mengetahui hukumnya.

  2. Wajib kifayah

    Yaitu bagi mujtahid yang ditanya tentang sesuatu dan sesuatu itu tidak hilang sebelum diketahui hukumnya. Hukum Wajib kifayah terjadi jika selain mujtahid tersebut masih ada mujtahid lain. Sehingga apabila seorang mujtahid telah berijtihad dan menetapkan hukum, maka kewajiban mujtahid yang lain menjadi gugur. Tetapi jika tidak seorang pun mujtahid melakukan ijtihadnya, maka semua mujtahid tersebut dianggap berdosa.

  3. Sunah

    Yaitu bagi mujtahid yang berijtihad terhadap suatu masalah atau peristiwa yang belum terjadi

Untuk memecahkan berbagai masalah yang ada disetiap zaman, dengan demikian Ijtihad menjadi tugas besar dan berat bagi seorang mujthid. Didalam Ilmu Ushul sendiri telah ditetapkan berbagai persyaratan sebagai kualifikasi yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan berijtihad. Persyaratan keilmuan yang harus dimiliki adalah sebagai berikut: mempunyai pengetahuan tentang Quran dan Sunah, mampu berbahasa Arab untuk memahami kata-kata yang asing (gharib) dalam Quran dan sunnah, memahami ilmu ushul fiqh, dan memahami teori nasikh dan mansukh. Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, sesorang tidak dapat dikategorikan sebagai mujtahid yang berhak melakukan ijtihad.

Ushul Fiqih

Kembali ke atas