Kehujjahan Istishab

Secara umum, prinsip istishab dianggap dapat diterima oleh mayoritas ulama dan fuqaha dalam penerapan hukum Islam, namun tidak semua ulama atau fuqaha setuju dengan prinsip ini. Ada beberapa ulama atau fuqaha yang berpendapat bahwa prinsip istishab tidak seharusnya digunakan dalam penerapan hukum Islam, atau hanya boleh digunakan dengan sangat hati-hati dan dalam situasi-situasi yang sangat terbatas. Namun, pendapat ini tidak merupakan pandangan yang mayoritas di kalangan ulama dan fuqaha.

Kehujjahan Istishab

Prinsip istishab biasanya digunakan dalam menetapkan hukum dalam situasi di mana tidak ada nash (ayat Al-Quran atau hadits) yang jelas tentang masalah tersebut, atau di mana nash yang ada tidak cukup jelas untuk memberikan solusi yang pasti. Prinsip ini juga biasanya digunakan dalam menetapkan hukum dalam situasi di mana nash yang ada tidak langsung mengatur masalah tersebut, namun masalah tersebut merupakan bagian dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan hadits.

Prinsip istishab juga dapat digunakan dalam menetapkan hukum yang dianggap sah untuk menjamin hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk mendapatkan keadilan, hak untuk bebas dari diskriminasi dan hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap kekerasan. Namun, meskipun prinsip istishab dianggap sebagai prinsip yang penting dalam penerapan hukum Islam, ada beberapa kelemahan atau kekurangan yang mungkin terjadi dalam penerapannya. Oleh karena itu, prinsip istishab harus digunakan dengan sangat hati-hati dan tidak boleh mengalahkan nash atau qiyas dalam menetapkan hukum.

Ketentuan Istishab

Berikut ini adalah beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penerapan prinsip istishab dalam hukum Islam:

  1. Prinsip istishab harus digunakan hanya dalam situasi di mana tidak ada nash (ayat Al-Quran atau hadits) yang jelas tentang masalah tersebut, atau di mana nash yang ada tidak cukup jelas untuk memberikan solusi yang pasti.
  2. Prinsip istishab tidak boleh mengalahkan nash atau qiyas dalam menetapkan hukum. Nash dan qiyas merupakan prinsip yang lebih utama daripada prinsip istishab, sehingga prinsip istishab hanya boleh digunakan jika nash atau qiyas tidak dapat memberikan solusi yang pasti tentang masalah tersebut.
  3. Prinsip istishab harus digunakan hanya dalam menetapkan hukum yang dianggap sah untuk menjamin hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk mendapatkan keadilan, hak untuk bebas dari diskriminasi dan hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap kekerasan.
  4. Prinsip istishab harus digunakan hanya dalam menetapkan hukum yang tidak langsung mengatur masalah tersebut, namun masalah tersebut merupakan bagian dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan hadits.
  5. Prinsip istishab tidak boleh digunakan secara terpisah dari nash atau qiyas dalam menetapkan hukum.
  6. Prinsip istishab harus memperhatikan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan hadits. Prinsip istishab tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan hadits, dan harus sesuai dengan ajaran Islam secara umum.
  7. Prinsip istishab harus digunakan dengan sangat hati-hati dan tidak boleh mengalahkan nash atau qiyas

Ushul Fiqih

ushulfiqih.com