Macam-Macam Ijtihad

Ada berbagai macam Ijtihad yang dibahas disini. Semua macam ijtihad memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat Muslim sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Namun, setiap macam ijtihad memiliki tingkat kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda. Kesemuanya merupakan macam-macam ijtihad yang dapat dilakukan oleh ulama dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat Muslim. Namun, setiap macam ijtihad harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan, agar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar Islam.

Ijtihad Berdasarkan Pengakuan Kebenarannya

Berdasarkan pengakuan hasil Ijtihad, Ada beberapa macam ijtihad yang dikenal dalam Islam, yaitu:

  1. Ijtihad Mu’tabar (ijtihad yang diakui kebenarannya): Ijtihad ini merupakan ijtihad yang diakui kebenarannya oleh mayoritas ulama, dan dianggap sebagai solusi yang tepat untuk masalah yang dihadapi. Ijtihad mu’tabar sering dijadikan sebagai dasar hukum dalam menyelesaikan masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan.
  2. Ijtihad Mu’tarad (ijtihad yang tidak diakui kebenarannya): Ijtihad ini merupakan ijtihad yang tidak diakui kebenarannya oleh mayoritas ulama, karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam atau tidak mempertimbangkan konteks dan realitas kehidupan masyarakat. Ijtihad mu’tarad tidak dijadikan sebagai dasar hukum dalam menyelesaikan masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan.
  3. Ijtihad Mu’tlaq (ijtihad yang tidak terbatas): Ijtihad ini merupakan ijtihad yang tidak terbatas pada teks-teks agama atau prinsip-prinsip dasar Islam, sehingga dapat mencakup segala hal yang dianggap perlu untuk dipertimbangkan dalam proses pemecahan masalah. Ijtihad mu’tlaq sering dijadikan sebagai dasar hukum dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tidak tercakup dalam Al-Qur’an atau hadis.
  4. Ijtihad Muqayyad (ijtihad yang terbatas): Ijtihad ini merupakan ijtihad yang terbatas pada teks-teks agama atau prinsip-prinsip dasar Islam, sehingga hanya dapat mencakup masalah-masalah yang tercakup dalam Al-Qur’an atau hadis. Ijtihad muqayyad tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tidak tercakup dalam teks-teks agama atau prinsip-prinsip dasar Islam.

Setiap macam ijtihad memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung pada situasi dan konteks kehidupan masyarakat yang sedang dihadapi. Namun, pada dasarnya, ijtihad merupakan salah satu cara untuk memperbarui dan menyesuaikan hukum Islam dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarak.

Ijtihad Berdasarkan Periode dan Pelaksananya

Berdasarkan periode dan pelaksana Ijtihad, Ada beberapa macam ijtihad yang dikenal dalam Islam, yaitu:

  1. Ijtihad klasik: merupakan ijtihad yang dilakukan oleh ulama-ulama klasik (salaf) sejak zaman Nabi Muhammad hingga abad ke-4 Hijriyah. Ijtihad klasik banyak dilakukan oleh ulama-ulama yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang memadai dalam memahami dan menafsirkan teks-teks agama. Ijtihad klasik adalah ijtihad yang dilakukan oleh ulama klasik (salaf) dari masa awal perkembangan Islam hingga pertengahan abad ke-9 M. Ijtihad klasik merupakan ijtihad yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode yang dikembangkan oleh para ulama klasik, seperti tafsir (penafsiran) dan qiyas (analogi).
  2. Ijtihad modern: merupakan ijtihad yang dilakukan oleh ulama-ulama modern (muta’akhirin) sejak abad ke-4 Hijriyah hingga sekarang. Ijtihad modern banyak dilakukan oleh ulama-ulama yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang memadai dalam memahami dan menafsirkan teks-teks agama, serta mempertimbangkan konteks dan realitas kehidupan masyarakat saat ini. Ijtihad modern ini dilakukan dengan menggunakan metode-metode yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat saat ini.
  3. Ijtihad individu: merupakan ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama secara individual, tanpa bergantung pada pendapat atau keputusan ulama lain.
  4. Ijtihad kelompok: merupakan ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok ulama yang terlibat dalam suatu forum atau diskusi untuk mencari solusi atas suatu masalah. Ijtihad kelompok dilakukan oleh sekelompok ulama secara bersama-sama, dengan mempertimbangkan pendapat-pendapat ulama lain.
  5. Ijtihad institusional: merupakan ijtihad yang dilakukan oleh suatu lembaga atau institusi agama yang memiliki kewenangan dan otoritas untuk mengeluarkan fatwa atau pendapat tentang masalah-masalah agama.

Semua macam ijtihad memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat Muslim dan untuk memperbarui dan menyesuaikan hukum Islam dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Namun, setiap macam ijtihad memiliki cara dan proses yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan tersebut.

Ijtihad Bedasarkan Cakupannya

Bedasarkan cakupannya, Ada beberapa macam ijtihad yang dikenal dalam Islam, yaitu:

  1. Ijtihad mutlak (ijtihad mujtahid) Ijtihad mutlak adalah proses pemikiran kritis dan analitis yang dilakukan oleh seorang ulama yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang memadai dalam memahami dan menafsirkan teks-teks agama, serta mempertimbangkan konteks dan realitas kehidupan masyarakat saat ini. Ijtihad mutlak merupakan ijtihad yang paling tinggi tingkatannya, dan hanya dilakukan oleh ulama yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang memadai dalam bidang tersebut.
  2. Ijtihad maqasid (ijtihad yang berdasarkan tujuan) Ijtihad maqasid adalah proses pemikiran kritis dan analitis yang dilakukan oleh seorang ulama untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat Muslim, dengan mempertimbangkan tujuan-tujuan dasar Islam. Ijtihad maqasid merupakan ijtihad yang lebih luas dari ijtihad mutlak, karena tidak terbatas pada teks-teks agama saja, tetapi juga mempertimbangkan tujuan-tujuan dasar Islam.
  3. Ijtihad taqlid (ijtihad yang berdasarkan pengikutan) Ijtihad taqlid adalah proses pemikiran kritis dan analitis yang dilakukan oleh seorang ulama yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang memadai dalam memahami dan menafsirkan teks-teks agama, tetapi tidak memiliki kemampuan atau keberanian untuk mengeluarkan pendapat sendiri. Ijtihad taqlid dilakukan dengan cara mengikuti pendapat ulama lain yang dianggap lebih kompeten dalam bidang tersebut.
  4. Ijtihad layaknya (ijtihad qiyas) Ijtihad layaknya adalah proses pemikiran kritis dan analitis yang dilakukan oleh seorang ulama untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakat Muslim, dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip dasar Islam dan mencari analogi (qiyas) dengan masalah-masalah yang telah tercakup dalam Al-Qur’an atau hadis. Ijtihad layaknya merupakan ijtihad yang lebih terbatas dari ijtihad mutlak,

Ijihhad Berdasarkan cara berijtihad

Berdasarkan cara melakukan Ijtihad, Ada beberapa macam ijtihad yang dikenal dalam Islam, yaitu:

  1. Ijtihad qiyasi: merupakan ijtihad yang dilakukan dengan cara mengambil hukum yang sama dari perkara yang sama atau yang hampir sama, dan menerapkannya pada perkara yang baru.
  2. Ijtihad istihsan: merupakan ijtihad yang dilakukan dengan cara mengambil hukum yang terbaik atau yang lebih baik dari beberapa alternatif hukum yang tersedia, dengan tujuan untuk mencapai kebaikan umum.
  3. Ijtihad istislah: merupakan ijtihad yang dilakukan dengan cara mengambil hukum yang paling sesuai dengan tujuan dasar hukum Islam, yaitu kemaslahatan umat.
  4. Ijtihad ijma’: merupakan ijtihad yang dilakukan dengan cara mengambil hukum yang diakui oleh mayoritas ulama dalam masyarakat Muslim.
  5. Ijtihad ra’y: merupakan ijtihad yang dilakukan dengan cara mengambil hukum berdasarkan pertimbangan dan pendapat pribadi ulama, yang dianggap paling tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam.

 

Ushul Fiqih

ushulfiqih.com