Macam-macam Qiyas

Ada lima macam Qiyas ditinjau dari segi perbandingan antara ‘illat yang terdapat pada ashal (pokok) dan yang terdapat pada far’u (cabang), antara mulhaq (yang disamakan atau yang dibandingkan) dengan mulhaq bih (pembanding atau yang dibandingi). Macam-macam Qiyas (analogi) dari perbandingan ashal dan far’u atau antara mulhaq dan mulhaq bih ini ada lima, yaitu: Qiyas Aula, Qiyas Musawi, Qiyas Al-Adwan, Qiyas Dilalah, dan Qiyas Syibhi.

Qiyas Aula

Qiyas Aula adalah Qiyas dimana illat yang terdapat pada far’u (cabang) mempunyai hukum yang lebih utama dari ‘illat yang terdapat pada ashal (pokok). Atau dengan kata lain, mulhaq (yang disamakan atau yang dibandingkan) tersebut memuat hukum yang lebih utama daripada mulhaq bih (pembanding atau yang dibandingi).

Contohnya adalah menqiyaskan hukum haram memukul kedua orang tua dengan hukum haram mengatakan “Ah” dalam QS. Al-Israa/17:23. Tidak hanya mengqiyaskan atau menanalogikan, tetapi juga Qiyas Aula memberi hukum yang lebih berat dibanding hukum asalnya.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” QS. Al-Israa/17:23

Illat (alasan) hukum larangan menagatkan “Ah” adalah menyakiti orang tua. Dalam contoh ini Qiyas Aula berlaku, dimana far’u (cabang) mempunyai illat hukum yang lebih utama dari ‘illat yang terdapat pada ashal (pokok). Hal ini karena tindakan memukul lebih menyakiti orang tua dibandingkan dengan mengatakan “Ah”. Dengan demikian keharaman hukum far’u (cabang ) lebih berat diban dingkan dengan ashal (pokok).

Qiyas Musawi

Qiyas Musawi adalah Qiyas dimana illat yang terdapat pada far’u (cabang) mempunyai bobot hukum yang sama dengan ‘illat yang terdapat pada ashal (pokok). Atau dengan kata lain, mulhaq (yang disamakan atau yang dibandingkan) tersebut memuat hukum yang lebih utama daripada mulhaq bih (pembanding atau yang dibandingi).

Contohnya adalah menqiyaskan hukum haram merusak, membakar, menghancurkan atau perbuatan apapun yang dapat merusak harta anak yatim dengan “memakan harta anak yatim”, sebagaimana secara harfiah disebutkan dalam QS al-Nisa/4: 2. ‘Illat hukum keharaman merusak harta anak yatim tersebut sama bobotnya dengan memakan harta anak yatim.

وَءَاتُوا۟ ٱلْيَتَـٰمَىٰٓ أَمْوَٰلَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا۟ ٱلْخَبِيثَ بِٱلطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَهُمْ إِلَىٰٓ أَمْوَٰلِكُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ حُوبًۭا كَبِيرًۭا

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka, janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sungguh, (tindakan menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar.” QS al-Nisa/4: 2

Contoh lainnya adalah hukum berbuat zalim terhadap anak yatim, dengan menqiyaskannya dengan hukum haram memakan harta anak yatim dalam QS al-Nisa/4: 2 tersebut.

Ayat ini menyebutkan larangan memakan harta anak yatim. Illat (alasan) hukum larangan memakan harta anak yatim adalah zalim. Jika kata yang maknanya sama dengan kata zalim berikut dapat diqiyaskan, maka Qiyas Musawi ini memiliki makna yang sangat luas. Kata yang semakna dengan zalim adalah: aniaya, bengis, buas, kejam, lalim, sewenang-wenang, sadis, beringas, biadab, brutal, buta hati, galak, ganas, garang, jahat, kasar, keji, liar, keras, kurang kjar, bertangan besi, amoral, asusila, barbar, brengsek, kurang kdat, lancang, semena-mena, tunasusila, dan lainnya.

Perbuatan zalim tidak terbatas memakan atau membelanjakan harta saja, tetapi disebut zalim jika melenyapkan, membakar, atau menghancurkan harta anak yatim. Dan jika diqiyaskan secara lebih luas, dimana Illat (alasan) hukumnya adalah larangan berbuat zalim, maka dapat keharaman dapat dimasukkan kepada apa saja perbuatan yang dikategorikan kedalam kezaliman.

Qiyas Al-Adwan

Qiyas Al_Adwan adalah Qiyas dimana illat yang terdapat pada far’u (cabang) mempunyai bobot hukum yang lebih rendah daripada ‘illat yang terdapat pada ashal (pokok). Atau dengan kata lain, mulhaq (yang disamakan atau yang dibandingkan) tersebut memuat hukum yang lebih rendah daripada mulhaq bih (pembanding atau yang dibandingi).

Contohnya adalah menqiyaskan hukum bunga bank dengan riba, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah/2: 278.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِىَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.” QS Al-Baqarah/2: 278

Ayat tersebut menjelaskan perintah untuk meninggalkan praktek riba. Penjelasan tentang riba ini diperinci dalam Hadits. Lihat penjelasan posisi Sunah terhadap Quran.

Riba sebagaimana dalam hadis nabi terbagi dalam dua jenis, yaitu riba yad (transaksi langsung) dan riba nasia’ah (hutang). Bunga bank sering disamakan dengan riba nasia’ah (hutang) ini. Hanya saja ‘illat bunga bank zaman sekarang dinilai lebih rendah dibandingkan dengan praktek riba zaman dahulu.

Qiyas Dilalah

Qiyas Dilalah adalah Qiyas dimana illat yang terdapat pada far’u (cabang) mempunyai hukum yang tidak menuntut adanya kewajiban, tidak seperti ‘illat yang terdapat pada ashal (pokok). Atau dengan kata lain, mulhaq (yang disamakan atau yang dibandingkan) tersebut memuat hukum tetapi tidak menuntut adanya kewajiban (tidak mewajibkan adanya hukum).

Contohnya adalah pandangan Abu Hanifah tentang kewajiban zakat terhadap harta yang berkembang bagi anak kecil dan orang baligh (dewasa). Abu Hanifah mengqiyaskan harta anak kecil dengan harta orang yang sudah baligh (dewasa) sebagaimana Qiyas terhadap ibadah haji. Sebagaimana anak kecil tidak wajib untuk melaksanakan ibadah haji, maka tidak wajib zakat terhadap harta anak kecil

Qiyas Syibhi

Qiyas Syibhi adalah Qiyas dimana illat yang terdapat pada far’u (cabang) dapat diqiyaskan kepada dua hukum ashal (pokok). Atau dengan kata lain, mulhaq (yang disamakan atau yang dibandingkan) tersebut dapat diqiyaskan kepada dua mulhaq bih (pembanding atau yang dibandingi).

Jika kasus ini terjadi maka illat yang terdapat pada far’u (cabang) diqiyaskan kepada hukum ashal (pokok) atau mulhaq bih yang mengandung lebih banyak persamaan.

Ushul Fiqih

Kembali ke atas