Manfaat Mempelajari Ushul Fiqih: Memahami Proses Ijtihad

Manfaat Mempelajari Ushul Fiqih bagi mujtahid adalah sebagai sebuah metodologi untuk melakukan ijtihad. Sedangkan bagi kita yang tidak berada di level mujtahid atau seseorang yang memiliki kualifikasi untuk berijtihad, Ilmu Ushul Fiqih tetap memiliki banyak manfaat, diantaranya untuk memahami bagaimana proses suatu hukum ditetapkan dan mempelajari pola-pola atau cara kerja Mujtahid dalam berijtihad.

Metodologi Untuk Memahami Quran dan Sunnah

Sebagai sebuah Ilmu, Ushul Fiqih mempelajari tentang dalil-dalil dalam Quran dan Sunah dan bagaimana cara menggunakan dalil itu untuk berijtihad. Ijtihad adalah upaya menentukan/memutuskan hukum aplikatif terhadap permasalahan yang belum ada hukumnya. Ilmu Ushul Fiqih merumuskan kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk menentukan hukum syara’ amaliyah yang didasarkan pada dalil-dalil syar’i dari Quran dan Sunnah.

Bagi kita yang tidak berada di level mujtahid atau seseorang yang memiliki kualifikasi untuk berijtihad, Ilmu Ushul Fiqih tetap memiliki banyak manfaat. Didalam Ilmu Ushul Fiqih sendiri juga telah ditentukan apa saja syarat untuk menjadi mujtahid. Hal ini penting agar orang awam tidak mudah bermain dalil dan menggunakannya secara asal-asalan. Bagi kita yang bukan mujtahid, Ushul Fiqih bermanfaat untuk lebih memahami ilmu agama secara lebih luas serta mampu membedakan mana dalil-dalil yang kuat dan lemah.

Manfaat Mempelajari Ushul Fiqih

Berikut manfaat mempelajari ilmu Ushul Fiqih berdasarkan kapasitas pembelajarnya, baik bagi mujtahid maupun masyarakat umum.

  1. Lebih Memahami Ilmu Agama

Sebagaimana kita ketahui, Hukum Islam sangat beragam sehingga tidak menutup kemungkinan ada perbedaan pendapat antara satu ulama dengan ulama lain, antara satu madzhab dengan madzhab lain. Dengan mempelajari Ushul Fiqih kita dapat mengetahui mana dalil-dalil yang kuat dan lemah yang digunakan sebagai dasar hukum Fiqih suatu madzhab. Dengan mengetahuinya kita akan menjadi lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan pandangan di dalam umat Islam. Karakter pembelajar agama Islam adalah semakin kita banyak belajar menjadikan kita semakin toleran dan terbuka terhadap perbedaan pendapat.

  1. Mengetahui Bagaimana Mujtahid Zaman Dulu Memutuskan Hukum Fiqih

Ushul Fiqih adalah ilmu yang digunakan sebagai sarana untuk membentuk hukum fiqih. Sebagai sebuah sarana, tujuan dari Ushul Fiqih adalah produk hukum yang aplikatif berupa Fiqih. Dengan mempelajari Ushul Fiqih kita mempelajari pola-pola atau cara kerja Mujtahid zaman dulu dalam berijtihad.

  1. Memahami Quran dan Sunnah dengan Tepat

Ushul Fiqih berfungsi sebagai metodologi untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah secara tepat. Tanpa Ushul Fiqh rentan terjadi kekeliruan dalam memahami nash Quran dan Sunnah. Misalnya untuk menyelesaikan kesan adanya kontradiksi ayat-ayat dalam Quran dengan teori Mutlaq Muqayyad, teori Amm Khash, atau teori. Teori Amr dan Nahi juga berfungsi menguraikan Hukum Taklif terkait perintah dan larangan dalam Quran. Bahwa tidak semua yang ditunjuk dengan bahasa perintah (Amr) dalam Al-Qur’an berarti kewajiban yang harus dikerjakan, dan tidak semua yang dilarang memiliki konsekuensi haram.

  1. Sebagai Metodologi untuk Melakukan Ijtihad

Bagi mujtahid, Ushul Fiqih berfungsi sebagai sebuah metodologi untuk melakukan ijtihad. Proses ijtihad sendiri dilakukan melalui proses pemahaman yang argumentatif atas sumber-sumber hukum Islam. Tujuannya untuk menjawab setiap problematika kehidupan manusia dengan mengembangkan Syariat Islam menjadi Yurisprudensi Islam aplikatif (Fiqih). Lihat Ushul Fiqih: Metodologi dalam Ijtihad

  1. Memahami Maksud/ Tujuan Disyariatkannya Hukum Islam

Dalam Ilmu Ushul Fiqih kita mempelajari bahwa pembuat syariat (Allah) menetapkan hukum kepada manusia tidaklah dengan sia-sia. Maksud / tujuan Allah menetapkan hukum kepada manusia tidak lain adalah untuk keselamatan/kebaikan manusia itu sendiri, baik dunia maupun akhirat.

Baca Maqashid Syariah: Maksud Disyaratkannya Hukum Islam

  1. Memahami bagaimana proses suatu hukum ditetapkan

Bagi kita, Ushul Fiqih berfungsi untuk memahami bagaimana proses suatu hukum ditetapkan. Dengan mempelajari Ushul Fiqih kita tidak hanya sekedar mengetahui hukum wajib atau sunnah terhadap suatu hal, tetapi juga mengetahui latar belakang dan sebab-sebab ditetapkannya hukum tersebut.

  1. Memahami Adat Kebiasaan / Tradisi yang dapat

Diantara yang menjadi pertimbangan seorang hakim ketika memutuskan hukum, atau seorang Mujtahid dalam berijtihad adalah memahami‘Urf atau adat kebiasaan / tradisi yang berlaku didalam masyarakat tersebut. Salah satu manfaat mempelajari Ilmu Ushul Fiqih adalah kita mengetahui bahwa ‘Urf dapat digunakan sebagai dalil hukum syariat jika tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

Baca Urf: Adat Kebiasaan (Tradisi)

  1. Terbuka terhadap Perbedaan Pendapat didalam Islam

Didalam Yurisprudensi Islam aplikatif (Fiqih) kerap terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama. Misalnya perbedaan tata cara beribadah antara satu madzhab dengan madzhab lain. Dengan mempelajari Ushul Fiqih kita terhindar dari fanatisme dan taklid buta. Mempelajari Ilmu Ushul Fiqih menjadikan terbuka terhadap perbedaan pendapat diantara para mujtahid.

  1. Terbuka terhadap Perbedaan Pendapat didalam Islam

Didalam Yurisprudensi Islam aplikatif (Fiqih) kerap terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama. Misalnya perbedaan tata cara beribadah antara satu madzhab dengan madzhab lain. Dengan mempelajari Ushul Fiqih kita terhindar dari fanatisme dan taklid buta. Mempelajari Ilmu Ushul Fiqih menjadikan terbuka terhadap perbedaan pendapat diantara para mujtahid.

  1. Memahami Berbagai Metode Istinbath

Ada beragam metode Penetapan Hukum (Istinbath) untuk memahami Quran dan Sunah dengan tepat. Didalam ilmu Ushul Fiqih kita mempelajari teori Perintah (Amr) dan Larangan (Nahi), Lafal Umum (‘Am) dan Lafal Khusus (Khas), Mutlaq dan Muqayyad, Mantuq dan Mafhum, Lafal dari Segi Jelas dan Tidak Jelas Maknanya, Ta’wil, maupun Metode Penetapan Hukum Melalui Maqasid Sari’ah, Ta’arud dan Tarjih

  1. Memecahkan Masalah Hukum Syariat Sebelum Islam

Terdapat perbedaan pendapat tentang syariat yang diberikan kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dll yang dikisahkan dalam Quran. Apakah semua syariat yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Islam dan disebut dalam Quran juga berlaku bagi umat Islam atau tidak. Seperti puasa, suatu ibadah yang telah disyariatkan kepada umat-umat sebelum Islam.

Baca Syar’u Man Qablana: Hukum Syariat Sebelum Islam

  1. Menjawab Masalah Kontemporer

Dengan perkembangan masyarakat yang dinamis, produk fiqih klasik kerap kurang memadai untuk menjawab berbagai masalah kontemporer. Khususnya dalam konteks keindonesiaan dan berbagai permasalahan semakin kompleks. Metodologi Ushul Fiqih dapat berfungsi untuk menyegarkan hukum klasik atau memproduksi hukum fiqih baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Ushul Fiqih menjadi alat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang belum pernah ada sebelumnya

Video Ushul Fiqih

Ushul Fiqih

Kembali ke atas