Pendapat Imam Madzhab tentang Istishhab

Istishhab adalah pendapat dalam fikih Islam yang berpendapat bahwa suatu keadaan atau tindakan dianggap terus berlaku atau masih sah sampai ada dalil yang menyatakan sebaliknya. Istishhab ini merupakan salah satu dari empat pendapat yang dikenal dalam fikih Islam, yaitu pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad Ibnu Hambal.

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hambal adalah empat imam besar dalam madzhab fikih Islam yang berbeda-beda. Masing-masing dari mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang konsep istishhab.

Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab Hanafi, berpendapat bahwa istishhab adalah suatu prinsip yang harus diikuti dalam menentukan hukum dalam fikih. Menurutnya, jika tidak ada dalil yang menyatakan bahwa suatu hal tidak berlaku, maka hal tersebut dianggap tetap berlaku.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa istishhab merupakan pendapat yang sah dan dapat dijadikan dasar untuk mengeluarkan hukum fikih. Menurutnya, istishhab merupakan cara untuk menjaga kepastian hukum dan mencegah terjadinya kebingungan dalam menerapkan hukum fikih.

Imam Abu Hanifah, seorang ulama fikih yang terkenal dari kota Kufah, Iraq, menganggap bahwa istishhab merupakan prinsip yang penting dalam proses ijtihad dan harus digunakan sebagai landasan untuk menentukan hukum Islam dalam masalah-masalah yang tidak tercakup oleh dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran dan Hadits. Menurutnya, istishhab harus digunakan untuk mengekstrak hukum Islam dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadits, dan juga harus dipakai untuk mengikuti kebiasaan atau tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat Muslim.

Imam Malik

Imam Malik, pendiri madzhab Maliki, berpendapat bahwa istishhab adalah suatu cara untuk menentukan hukum dalam fikih dengan mengacu pada kebiasaan atau praktik yang telah lama berlangsung di masyarakat. Menurutnya, jika tidak ada dalil yang menyatakan bahwa suatu hal tidak berlaku, maka hal tersebut dianggap tetap berlaku berdasarkan kebiasaan yang telah lama berlangsung.

Imam Malik berpendapat bahwa istishhab merupakan pendapat yang sah, namun tidak dapat dijadikan dasar utama dalam mengeluarkan hukum fikih. Menurutnya, istishhab hanya dapat digunakan sebagai tambahan dalam menentukan hukum fikih, dan harus selalu dipertimbangkan bersama dengan dalil-dalil lain yang ada.

Imam Malik, seorang ulama fikih yang terkenal dari kota Madinah, Arab Saudi, juga menganggap bahwa istishhab merupakan prinsip yang penting dalam proses ijtihad. Menurutnya, istishhab harus digunakan untuk mengekstrak hukum Islam dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadits, serta harus dipakai untuk mengikuti kebiasaan atau tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat Muslim di Madinah. Selain itu, ia juga menganggap bahwa istishhab harus digunakan untuk mengikuti pendapat ulama yang terkemuka dari generasi sebelumnya, terutama ulama yang tinggal di Madinah.

Imam Asy-Syafi’i

Imam Asy-Syafi’i, pendiri madzhab Syafi’i, berpendapat bahwa istishhab adalah suatu cara untuk menentukan hukum dalam fikih dengan mengacu pada kebiasaan atau praktik yang telah lama berlangsung di masyarakat, namun ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan dalil-dalil yang ada. Menurutnya, jika tidak ada dalil yang menyatakan bahwa suatu hal tidak berlaku, maka hal tersebut dianggap tetap berlaku berdasarkan kebiasaan yang telah lama berlangsung, namun jika ada dalil yang menyatakan bahwa suatu hal tidak berlaku, maka hal tersebut tidak dianggap berlaku.

Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa istishhab merupakan pendapat yang sah, namun tidak dapat dijadikan dasar utama dalam mengeluarkan hukum fikih. Menurutnya, istishhab hanya dapat digunakan sebagai tambahan dalam menentukan hukum fikih, dan harus selalu dipertimbangkan bersama dengan dalil-dalil lain yang ada.

Imam Asy-Syafi’i, seorang ulama fikih yang terkenal dari kota Mekkah, Arab Saudi, juga menganggap bahwa istishhab merupakan prinsip yang penting dalam proses ijtihad. Menurutnya, istishhab harus digunakan untuk mengekstrak hukum Islam dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadits, serta harus dipakai untuk mengikuti kebiasaan atau tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat Muslim di Mekkah. Selain itu, ia juga menganggap bahwa istishhab harus digunakan untuk mengikuti pendapat ulama yang terkemuka dari generasi sebelumnya, terutama ulama yang tinggal di Mekkah.

Imam Ahmad Ibnu Hambal

Imam Ahmad Ibnu Hambal berpendapat bahwa istishhab merupakan pendapat yang sah, namun tidak dapat dijadikan dasar utama dalam mengeluarkan hukum fikih. Menurutnya, istishhab hanya dapat digunakan sebagai tambahan dalam menentukan hukum fikih, dan harus selalu dipertimbangkan bersama dengan dalil-dalil lain yang ada.

Semua empat imam tersebut sepakat bahwa istishhab tidak dapat dijadikan sebagai dasar utama dalam mengeluarkan hukum fikih. Namun, mereka berbeda pendapat tentang seberapa pentingnya istishhab dalam menentukan hukum fikih.

Imam Ahmad ibn Hambal, seorang ulama fikih yang terkenal dari kota Baghdad, Iraq, juga menganggap bahwa istishhab merupakan prinsip yang penting dalam proses ijtihad. Menurutnya, istishhab harus digunakan untuk mengekstrak hukum Islam dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadits, serta harus dipakai untuk mengikuti kebiasaan atau tradisi yang telah lama berlaku di masyarakat Muslim di Baghdad. Selain itu, ia juga menganggap bahwa istishhab harus digunakan untuk mengikuti pendapat ulama yang terkemuka dari generasi sebelumnya, terutama ulama yang tinggal di Baghdad. Namun, Imam Ahmad ibn Hambal juga menekankan pentingnya memperhatikan konteks dan situasi di mana hukum Islam diterapkan, dan menganggap bahwa istishhab harus digunakan dengan hati-hati dan tidak boleh menjadi substitusi untuk dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran dan Hadits.

Ushul Fiqih

ushulfiqih.com