Pengertian ‘Urf

‘Urf adalah istilah dalam bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “kebiasaan”. ‘Urf digunakan dalam fikih Islam untuk menunjukkan kebiasaan atau tradisi yang telah lama berlaku di sebuah masyarakat atau komunitas. Dalam proses ijtihad (pemahaman dan interpretasi hukum Islam), ‘urf sering digunakan sebagai salah satu sumber hukum Islam, terutama dalam masalah-masalah yang tidak tercakup oleh dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran dan Hadits.

‘Urf Secara Bahasa

Secara bahasa, ‘urf berasal dari kata arab “عرف” yang berarti “kebiasaan” atau “tradisi”. Istilah ini digunakan dalam fikih Islam untuk menunjukkan kebiasaan atau tradisi yang berlaku di suatu masyarakat. ‘Urf dapat berupa kebiasaan sosial, budaya, atau hukum yang telah lama ada di masyarakat tersebut, dan dapat berbeda-beda di antara masyarakat-masyarakat yang berbeda.

‘Urf Secara Istilah

Secara istilah, ‘urf adalah kebiasaan atau tradisi yang berlaku di suatu masyarakat dan digunakan sebagai salah satu sumber hukum Islam dalam proses ijtihad (pemahaman dan interpretasi hukum Islam). ‘Urf dapat berupa kebiasaan sosial, budaya, atau hukum yang telah lama ada di masyarakat tersebut, dan dapat berbeda-beda di antara masyarakat-masyarakat yang berbeda.

Secara istilah, ‘urf adalah kebiasaan atau tradisi yang berlaku di suatu masyarakat dan digunakan sebagai salah satu sumber hukum Islam dalam proses ijtihad (pemahaman dan interpretasi hukum Islam). ‘Urf dapat berupa kebiasaan sosial, budaya, atau hukum yang telah lama ada di masyarakat tersebut, dan dapat berbeda-beda di antara masyarakat-masyarakat yang berbeda.

‘Urf adalah istilah yang digunakan dalam fikih Islam untuk menunjukkan kebiasaan atau tradisi yang berlaku di masyarakat. Dalam proses ijtihad (pemahaman dan interpretasi hukum Islam), ‘urf dianggap sebagai salah satu sumber hukum Islam yang penting dan dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan hukum Islam dalam masalah-masalah tertentu.

Menurut para ulama fikih, ‘urf merupakan sumber hukum Islam yang sah dan harus dipertimbangkan dalam proses ijtihad, namun tidak boleh mengalahkan dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran dan Hadits. Oleh karena itu, ‘urf harus digunakan dengan hati-hati dan tidak boleh menjadi substitusi untuk dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran dan Hadits. Selain itu, ‘urf juga harus dipertimbangkan dalam konteks dan situasi di mana hukum Islam diterapkan, dan tidak boleh digunakan secara semena-mena untuk menafikan atau mengabaikan prinsip-prinsip dasar hukum Islam.

‘Urf dapat berupa kebiasaan atau tradisi yang telah lama berlaku di suatu masyarakat, atau juga dapat berupa kebiasaan atau tradisi yang baru muncul dan diakui oleh masyarakat tersebut. Dalam proses ijtihad, ulama fikih akan mempertimbangkan ‘urf dalam konteks yang sesuai dan hanya akan menggunakannya jika tidak ada dalil yang jelas dari Al-Quran atau Hadits yang bertentangan dengannya.

Meskipun ‘urf dianggap sebagai sumber hukum Islam yang penting, ia tidak boleh mengesampingkan dalil-dalil yang jelas dari Al-Quran dan Hadits. Jika terdapat dalil yang jelas yang bertentangan dengan ‘urf, maka dalil tersebut harus diutamakan dan ‘urf harus ditinggalkan. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar hukum Islam tetap sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadits, dan tidak terpengaruh oleh kebiasaan atau tradisi yang mungkin tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Ushul Fiqih

ushulfiqih.com