Quran dan Sunah dalam Pandangan Imam Abu Hanifah

Quran merupakan sumber hukum Syariat Islam, dan keseluruhan ayat Quran bersifat qath’i dari segi wurud (kedatangan) dan tsubut (penetapannya), dan Quran diriwayatkan secara mutawatir. Pendapat jumhur ulama ini juga disepakati Imam Abu Hanifah. Namun apakah Quran itu mencakup lafadz / teks dan maknanya atau hanya maknanya saja, ada perbedaan pendapat. Dalam pendangan Imam Abu Hanifah, Quran hanya maknanya saja. Karena yang dimaksud Quran maknanya, bukan lafadz / teksnya, dalam pandangannya Imam Abu Hanifah membolehkan shalat dengan menggunakan bahasa non-Arab, misalnya dengan bahasa Indonesia meskipun tidak dalam keadaan madarat. Sebagai perbandingam, dalam pandangan Imam Syafi’i, tidak dibolehkan membaca Quran menggunakan bahasa non-Arab, sekalipun seseorang tersebut bodoh.

Pandangan Imam Abu Hanifah ketika Zahir Quran Bertentangan dengan Sunah

Jika secara tekstual Quran berbeda dengan Sunnah, secara umum ada dua pendapat: Pertama, Sunah sebagai hakim terhadap Quran. Jika terjadi perbedaan, maka Sunah berfungsi sebagai tafsir dan penjelas maksud ayat-ayat didalam Quran yang secara harfiah bertentangan dengan Sunnah tersebut. Sunnah dengan demikian menguraikan maksud dari ayat Quran. Sunnah berfungsi untuk memahami Quran. Kedua, Quran sebagai hakim bagi Sunah. Jika Sunnah bertentangan dengan Quran, maka Quran dimenangkan. Sunah tidak dianggap sahih jika bertentangan dengan Quran.

Dalam pandangan Imam Abu Hanifah dan beberapa ulama lain, jika terjadi pertentangan antara Quran dan Sunah, maka harus memperhatikan apakah kalimat/kata yang ditunjuk dalam Quran tersebut Umum (Amm) atau Khusus (Khash). Jika kalimat/kata yang ditunjuk adalah umum, maka lafazh Umum (Amm) yang ada dalam Quran itu berlaku sesuai keumumannya, tidak dikhususkan secara spesifik atau terperinci. Kemudian jika disaat yang sama ada Sunah yang mutawatir atau masyhur, dalam pandangan Imam Abu Hanifah Sunah tersebut bisa mentakhshish (mengkhususkan, memperinci secara spesifik) kalimat/kata yang umum dalam Quran. Tetapi jika Sunnah tersebut tidak mutawatir, dan dalam pandangan Imam Abu Hanifah, ada beberapa persyaratan Hadis Ahad untuk bisa mentakhsis (mengkhususkan, memperinci secara spesifik) Quran.

Pandangan Imam Abu Hanifah terhadap Hadits Ahad

Sebagaimana Quran sumber hukum Hukum Islam, Hadits yang sahih juga merupakan sumber hukum. Ada perbedaan pendapat dalam kualifikasi kesahihan suatu Hadits. Kebanyakan ulama Hadits sepakat kualifikasi kesahihan dilihat dari segi sanad. Dalam Ulumul Hadits, Hadits dikategorikan kedalam Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad; atau tiga kategori menurut Hanafiyah: Mutawatir, Mashyur, dan Ahad. Kehujjahan hadis Mutawatir sendiri telah disepakati. Dan dalam pandangan Imam Abu Hanifah Hadits Mutawatir bisa mentakhshish (mengkhususkan, memperinci secara spesifik) kalimat/kata yang umum dalam Quran. Jika tidak mutawatir ada beberapa persyaratan Hadis Ahad untuk bisa diamalkan.

Persyaratan Hadis Ahad yang disepakati para Imam Madzhab untuk bisa diamalkan, lebih kepada kualifikasi perawi atau orang yang meriwayatkan Hadits Ahad tersebut. Yaitu perawi tersebut harus baligh dan berakal, harus muslim, orang yang adil, dan dhabit (mendengar dari Nabi, hafal, dan memahami kandungannya). Selain hal itu, ebebrapa persyaratan tambahan diberikan Hanafiyah, yaitu: Perbuatan perawi harus sesuai dengan yang diriwayatkan tersebut, tidak menyalahi riwayatnya, dan beberapa persyaratan lainnya.

 

Video Ushul Fiqih

Lihat ‘Urf di Wikipedia

Ushul Fiqih

Kembali ke atas