Ushul Fiqih Menurut Bahasa dan Istilah

Ushul Fiqih berasal dari kata ushul (bentuk jamak dari ashl) dan kata fiqih. Ashl secara bahasa berarti pondasi dan Fiqih, secara bahasa berarti pemahaman. Secara istilah, ashl mempunyai beberapa arti, diantaranya: Dalil (landasan hukum). Dan secara istilah, Fiqih berarti pengetahuan tentang Syari’ah Islam yang berhubungan dengan perbuatan seorang mukalaf.

Pengertian Ushul Secara Bahasa dan Istilah

Ashl secara bahasa atau etimologi berarti pondasi, landasan tempat rnembangun sesuatu, baik yang bersifat materi ataupun bukan”. Secara istilah, ashl mempunyai beberapa arti, diantaranya: Dalil (landasan hukum), Qa’idah (ketentuan yang bersifat umum yang berlaku sebagai dasar atau pondasi sesuatu yang ada dalam cakupannya), Rajih (yang terkuat dari beberapa probabilitas atau kemungkinan), Mustashhab (memberlakukan hukum yang sudah ada atau yang diyakini selama tidak ada dalil yang mengubahnya ketika terjadi keraguan dalam satu masalah). Ashl juga berarti asal’ tempat Qiyas (analogi). Dengan demikian Ushul Fiqih berarti dalil-dalil (landasan hukum) Fiqih.


Pengertian Fiqih Secara Bahasa dan Istilah

Fiqih, secara bahasa atau etimologi berarti pemahaman. Secara terminologi, Fiqih berarti pengetahuan tentang hukum Syara’ (Syari’ah Islam) yang berhubungan dengan amal perbuatan seorang mukalaf. Mukalaf artinya manusia yang telah dewasa dan berakal sehat, sehingga dikenai beban Taklif wajib menjalankan syariat Islam. Objek kajian fiqih ialah hukum perbuatan mukallaf ini, yaitu tentang halal, haram, wajib, mandub, makruh, dan mubah beserta dalil-dalil yang mendasari ketentuan hukum tersebut.

Fiqih merupakan bagian dari syari’ah Islam. Disebut sebagai “bagian dari syari’ah Islam” karena syariat Islam itu sangat luas, mencakup seluruh ajaran agama Islam, baik berupa akidah (ushuliah) maupun amaliah (furuiyah). Fiqih hanya mencakup aspek amaliah (furuiyah) yang berhubungan dengan amal perbuatan, tidak termasuk hukum yang berhubungan dengan akidah seperti kewajiban beriman kepada Allah, Malaikat, Rasul, dan sebagainya; tidak termasuk juga akhlak dan tasawuf.

Sebagai ilmu yang berusaha menjelaskan hukum Syariat Islam, fiqih dapat diartikan sebagai “Ilmu tentang hukum syara’ tentang perbuatan manusia (amaliah) yang diperoleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci.” Sebagai bagian dari syari’ah Islam  yang membahas hukum amaliah (furuiyah), Fiqih dapat diartikan sebagai “Himpunan hukum syara’ tentang perbuatan manusia (amaliah) yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.”

Imam Haramain (al-Juwaini) dan Al-Amidi memberikan perspektif lain, dimana mengartikan fiqih sebagai pengetahuan hukum syara’ yang melalui penalaran (nuclzar dan istidlal). Pengetahuan hukum yang tidak melalui ijtihad, tetapi ditetapkan secara qath’i dalam Quran seperti kewajiban shalat lima waktu, keharaman zina, dan sebagainya bukan merupakan bahasan fiqih.

Sebagai sebuah pemahaman tentang hukum Syara’, semua hukum yang ada dalam Fiqih diposisikan tidak mencapai kualifikasi level yakin, tetapi hanya sampai di tingkat dzhan (perkiraan, asumsi). Tingkatan yakin hanya diberikan kepada hukum Syara’ (Syari’ah Islam) yang secara Qath’i ditetapkan dalam Quran dan Sunah. Misalnya kewajiban menunaikan shalat lima waktu, kewajiban menunaikan zakat, dan kewajiban haji. Hukum kekuatan hukumnya bersifat pasti (qath’iy). Dengan demikian, Fiqih adalah hukum dalam Islam yang tingkat kekuatannya hanya sampai di level Dzhan, karena diambil dari dalil-dalil yang Dzanny, selain itu juga ada campur tangan akal pikiran manusia dalam penarikannya dari Qur’an dan Sunnah.

Pengertian Ushul Fiqih

Ushul Fiqih adalah Pengetahuan tentang dalil-dalil (landasan hukum) Fiqih secara umum, cara mengistimbatkan (menarik) hukum dari dalil-dalil tersebut, dan persyaratan kualifikasi pelaku istinbath. Abdul Wahab Khalaf memberikan pengertian Ushul Fiqih sebagai “Ilmu tentang kaidah-kaidah  dan  metode  penggalian  hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia (amaliah) dari dalil- dalil yang terperinci, atau kumpulan kaidah-kaidah dan metode penelitian hukum syara’ mengenai perbuatan manusia (amaliah) dari dalil-dalil yang terperinci.” Dalil-dalil (landasan hukum) Fiqih disini mencakup dalil-dalil yang disepakati maupun yang tidak disepakati, yaitu Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan qiyas, istihsan, istishlah (maslahah mursalah), syar’u man qablana, fatwa sahabat, dan ‘urf (adat kebiasaan).



Ad-dalil (dalil) sendiri secara etimologi berarti “sesuatu yang memberi petunjuk kepada yang lain”. Dalil dalam Quran ada yang bersifat ijmali (global, umum) dan ada yang tafsili (terinci). Dalil ijmali menjelaskan hukum secara global tanpa merincinya. Misalnya ayat-ayat dalam Quran yang menjelaskan kewajiban melaksanakan shalat lima waktu, kewajiban zakat, dan haji tanpa merinci teknis pelaksanaannya. Ayat-ayat yang menjelaskan hukum secara global ini disebut mujmal.

Ushul Fiqh membahas kaidah umum tanpa merinci satu per satu perintah didalam Quran dan Sunnah. Di dalam Ushul Fiqih, dalil ijmali (global) adalah dalil atau kaidah yang bersifat umum, yang tidak menetapkan hukum secara langsung pada masalah tertentu. Contoha dalil ijmali (global) adalah “Perintah menunjukkan hukum wajib selama tidak ada indikasi lain yang menunjukkan pengertian selain itu”. Kaidah ini ada dalam pembahasan Amr (Perintah).

Lihat:
Pengertian Amr (Perintah) dan Bentuk-bentuk Amr dalam Quran
Kaidah Ushul Fiqih Tentang Amr dan Nahi

Yang dipelajari dalam Ushul Fiqih atau yang menjadi obyek pembahasannya adalah dalil hukum atau sumber hukum Syara’ yang bersifat ijmali (global), dan metode dalam penggunaan dalil tersebut dalam menqistinbath hukum, serta kualifikasi atau persyaratan mujtahid (orang yang menggali hukum). Kaidah yang dipelajari dalam Ushul Fiqih berfungsi sebagai menggali hukum Syara’ (Syari’ah Islam) dari dalil-dalilnya tersebut. Kaidah-kaidah Ushul Fiqih dinilai mampu dalam menggali hukum Syara’ (Syari’ah Islam) menjadi hukum Fiqih amaliyah (aplikatif).



Ushul Fiqih mempelajari metode-metode dalam istinbat. Misalnya dalam kasus adanya pertentangan antara dalil yang satu dengan dalil lainnya, didahulukan atau diutamakan dalil yang tegas dari dalil yang tidak tegas. Jika pertentangannya dalam Hadis, maka didahulukan hadis mutawatir dari hadis ahad, atau hadis lain yang tidak sampai ke tingkat mutawatir. Dalam Ushul Fiqih hal ini dipelajari dalam Ta’arud al-Adillah (dalil-dalil yang bertentangan), dan metode tarjih (cara mengetahui mana dalil yang lebih kuat sehingga harus didahulukan dari dalil yang lemah).

Baca selanjutnya: Objek kajian Ushul Fiqih

Ushul Fiqih

Kembali ke atas