Ushul Fiqih: Metodologi dalam Ijtihad

Ushul Fiqih adalah ilmu yang mempelajari metodologi dalam Ijtihad atau mengembangkan Syariat Islam menjadi Yurisprudensi Islam aplikatif (Fiqih). Syariat berbeda dengan Fiqih. Syari’at bersumber dari Quran dan Sunah, sedangkan fiqih adalah pemahaman para Ulama (melalui proses Ijtihad) terhadap perintah yang ada dalam sumber hukum Islam tersebut. Sebagai contoh, Zakat adalah syariat islam karena terdapat perintah zakat dalam Quran. Tetapi Quran tidak memerinci tatacaranya. Melalui proses Ijtihad, para ulama mengembangkan syariat Islam tersebut menjadi hukum Islam aplikatif yang berupa fiqih.

Pertanyaan  seperti “Apakah zakat fitrah harus dengan beras atau boleh dengan uang?.” Atau pertanyaan yang lebih detail “Apakah boleh menggunakan beras padahal tidak dicontohkan dalam Sunnah?, tidak ada dalil yang secara harfiah menyebutkan zakat dengan beras, mestinya gandum!”. Beras tentu adalah makanan pokok di Indonesia. “Apakah boleh menggunakan makanan pokok lokal dimana kita berada?”. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah persoalan fiqih bukan syariat. Sebagai sebuah pemahaman terhadap syariat, hasil ijtihad ulama bisa sangat variatif, berbeda-beda satu dengan yang lain.

Ushul fiqih membedah kitab suci (Quran dan hadits) dengan menggunakan kaidah dan teori dari sudut pandang linguistik dan retorika untuk menghasilkan hukum Islam aplikatif yang berupa fiqih.

Metodologi investigatif Ushul Fiqih dilakukan melalui berbagai prinsip dan aturan kaidah kebahasaan sehingga akhirnya mampu menghasilkan hukum praktis yang dikembangkan dari sumber dasar hukum Islam.

Sumber Hukum Islam

Sumber utama Hukum Islam adalah Quran dan Sunnah. Sunnah adalah laporan (hadits) tentang ucapan, tindakan, atau persetujuan yang bijaksana dari Rasulullah saw. Hukum yang ada dalam Quran dan sunnah ini tidak bisa ditambah karena Quran sudah tidak turun lagi dan juga tidak mungkin ada hadits-hadits baru. Hukum yang berasal dari Quran dan Sunah inilah yang disebut sebagai Syariah.

Selain Al-Quran dan hadis, teori klasik yurisprudensi Sunni juga mengakui dua sumber hukum lain, yaitu: konsensus hukum (ijmaʿ) dan pemikiran/penalaran analogi (qiyas). Ijma’ adalah konsensus dari semua ulama tafsir Muslim pada aturan hukum tentang masalah yang tidak tercakup dalam Al-Quran atau sunnah. Ijmak adalah kesepakatan Yurisprudensi Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Sedangkan Qiyas adalah analogi untuk menyelesaikan permasalahan yang belum ada hukumnya dengan yang sudah ada hukumnya.

Metodologi Ushul Fiqih

Dalam metodologi Ushul Fiqih, kitab suci (Quran dan hadits) harus ditafsirkan dan diuraikan dari sudut pandang fonetik (linguistik) dan retorika. Contohnya adalah metode untuk menyelesaikan dua ayat yang terlihat kontradiksi atau saling bertentangan dalam Quran, dan bagaimana menentukan kekuatan hukum dari sebuah ayat Kitab Suci yang turun lebih dulu untuk dibatalkan oleh sebuah ayat yang turun kemudian. Dalam teori Nasakh Mansukh dijelaskan bahwa ayat yang turun lebih akhir menghapus hukum dari ayat yang turun lebih dahulu. Argumentasi ini sangat rasional.

Melalui upaya mengintegrasikan pemahaman tekstual dengan pemahaman empiris, Metodologi Ushul Fiqih dapat digunakan untuk menjawab masalah masyarakat yang berkembang secara dinamis. Integrasi ini dimungkinkan karena Ushul Fiqih melihat Qur’an sebagai teks yang memiliki konteks, yaitu adanya konteks pada saat turunnya Qur’an, sehingga ada alasan rasional adanya ayat Quran yang turun untuk merespon kondisi masyarakat Arab pada abad ke-7 saat itu.

  1. Untuk memecahkan masalah umat Islam dengan mengembangkan aturan hukum Islam (syariah) menjadi yurisprudensi Islam aplikatif (fiqih)
  2. Metodologi Ushul Fiqih memiliki dimensi sosial bisa mengikuti dinamika sosial masyarakat yang berubah dengan cepat untuk menjawab persoalan masyarakat yang berkembang secara dinamis

 

Ushul Fiqih

Kembali ke atas